Kisah dari Nagari Lareh nan Panjang



Wali Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Azrul Aswat, masih cukup muda. Usianya baru memasuki 35 tahun. Tugasnya cukup berat, mengurus sebuah nagari seluas 1500 ha, dengan penduduk sebanyak 5853 jiwa yang baru saja dilanda gempa pada 30 September 2009 silam. Nagari yang dipimpinnya adalah nagari yang baru saja lepas dari predikat Desa Tertinggal. Pasca Gempa 30 September 2009, Nagari tersebut juga seakan terlewatkan oleh arus bantuan, sekalipun di pelosok-pelosok yang jauh dari jalan utama banyak rumah dan bangunan penduduk yang rusak berat. Tercatat di Posko Informasi Gempa Padang Pariaman (http://gempa.padangpariamankab.go.id/index.php), sebanyak 893 rumah penduduk mengalami rusak berat, sementara 21 rumah rusak sedang, dan 4 rumah rusak ringan. Selain berada di kawasan rawan gempa, Nagari Lareh nan Panjang juga rawan terhadap bencana banjir. Aliran sungai Batang Mangua sering meluap dan mengenangi beberapa korong yang terdapat di Nagari tersebut.

Program Build Back Better, kerjasama Yayasan IDEP dengan AIFDR, mengadakan 3 kali community screening di Nagari Lareh nan Panjang, berlokasi di tiga tempat yang berbeda dalam tiga malam pemutaran film Rumah Aman Gempa dan satu film hiburan. Pemutaran film komunitas berlangsung di Korong Ampalu, Korong Ampalu Tinggi, dan Korong Apar. Apresiasi penduduk sangat besar, sekalipun beberapa kali terkendala oleh cuaca yang kurang bersahabat, mereka tetap setia hingga pemutaran film selesai. Selain pemutaran film, penduduk memperoleh brosur, kalendar, dan VCD Rumah Aman Gempa untuk mereka yang memiliki pemutar cakram video.

Setiap acara community screening, Pak Wali, begitu beliau sering dipanggil, selalu hadir dan berada di antara para penduduknya. Bila ada yang bertanya mengenai isi dan muatan film, beliau selalu menerangkan kepada penduduk yang bertanya. “Film dan brosur yang diperoleh dari IDEP, sangat membantu saya dalam menerangkan kepada warga mengenai konstruksi rumah aman gempa. Sebelumnya penduduk yang ada di pelosok-pelosok masih buta mengenai informasi tentang bangunan aman gempa.”  beliau berkata dengan sumringah. “Nanti, mereka yang memiliki pemutar VCD akan kami minta dan instruksikan untuk memutar bersama-sama warga lainnya. ‘Kan bisa menjadi bahan diskusi mereka saat berkumpul di warung kopi, laga-laga, atau dalam pertemuan-pertemuan lainnya. Mereka sangat tertarik sekali dengan isu ini.”

Menurut beliau, media film yang diputar dengan konsep layar tancap sangat efektif bagi masyarakat yang ada di pelosok-pelosok kampung yang masih awam dengan tingkat pendidikan yang masih rendah ditambah alat elektronik yang tidak memadai. Peran pemuka masyarakat dan perangkat Nagari juga sangat penting, karena bagi masyarakat di pedesaan, pemuka masyarakat dan perangkat Nagari adalah tempat mereka bertanya dan mengadu. “Saat ini setidaknya para pemuka dan perangkat Nagari sudah memiliki bahan yang bermanfaat bagi mereka dalam mensosialisasikan masalah bangunan yang aman gempa dan permasalahan rehabilitasi dan rekonstruksi kepada masyarakat. Ada ilmu dasar mengenai bangunan yang diperoleh dari film Rumah Aman Gempa, sehingga kami yang ada di Nagari bisa mengingatkan warga yang akan atau sedang membangun kembali untuk lebih berhati-hati dan dapat menggunakan konstruksi yang tepat,” sambung beliau.

Di Nagari Lareh nan Panjang, baru sebagian kecil masyarakat yang sudah mulai kembali membangun rumahnya. Sebagian besar dari mereka yang sudah kembali membangun tersebut menggunakan biaya sendiri, baik dari simpanan perhiasan, ternak yang dijual, maupun bantuan dari keluarga yang berada di rantau. Masih banyak yang menunggu bantuan rehab/rekon dari pemerintah dan bertahan di bangunan sementara.

“Perlu waktu untuk merubah kebiasaan masyarakat dalam membangun rumah. Mereka biasanya menyerahkan begitu saja pada tukang bangunan yang mereka pilih. Sehingga kunci rumah yang aman juga terletak di tangan para tukang yang membangun.” “Daerah ini banyak tukang, namun tukang-tukang bangunan yang ada saat ini adalah tukang yang memiliki keahlian turun temurun, belajar dari pengalaman dan kurang memperoleh pelatihan.” “Mereka seharusnya memperoleh pelatihan khusus dari pemerintah dan lembaga terkait. Karena bangunan yang aman dan mantap secara konstruksi adalah hasil karya mereka,” begitu saran dari Pak Wali.

“Kami di Nagari sangat berharap nantinya masyarakat lebih memahami konstruksi yang aman gempa, terutama di wilayah kami yang  memang rawan gempa. Ini bagian dari kesiagaan mereka menghadapi bencana dan tentu saja, membangun rumah akan terus berlangsung, sehingga bila mereka saat ini dihimbau untuk ingat akan kualitas bangunan mereka, hal tersebut akan berguna bagi mereka suatu saat nantinya.” “Bila perlu dapat dimasukan ke dalam agenda pokmas-pokmas yang akan dibentuk nantinya, sebagai bagian penting yang berangkat dari kebutuhan masyarakat itu sendiri,” itulah harapan beliau.