Radio Komunitas dalam Pendidikan Masyarakat mengenai Rumah Aman Gempa



Program Pendidikan Masyarakat  mengenai “Rumah Aman Gempa” (RAG), kerjasama IDEP dan Australia – Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR), juga melibatkan beberapa stasiun radio komunitas dalam distribusi dan pendekatan langsung kepada masyarakat. Peran radio komunitas sangat penting dalam masa-masa tanggap darurat dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Hal tersebut telah terbukti pasca gempa Sumatera Barat 30 Se
ptember 2009 lalu. Dalam program ini, radio komunitas dilibatkan baik dalam pemutaran iklan layanan masyarakat, pendistribusian brosur, kalendar, vcd/dvd hingga pemutaran film di komunitas mereka. Sementara waktu, kami melibatkan radio SAM FM di Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Suandri FM di Nagari IV Koto Aur Malintang, Kecamatan Sungai Geringging, Padang Pariaman dan Radio Kiambang FM di Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2X11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman.

Menurut  data Tim Assesment Bangunan Gempa Sumatera Barat di Kabupaten Agam, tercatat 11.796 bangunan rusak berat, 3.797 rusak sedang, dan 4.353 rusak ringan dengan jumlah total 19.946 bangunan rusak. Sementara itu, di Kabupaten Padang Pariaman sejumlah 57.931 bangunan rusak berat, 1

6.291 rusak sedang, dan 12.945 mengalami rusak ringan. Jumlah seluruh bangunan 87.167 bangunan. Radio Komunitas yang terlibat dalam program ini terdapat di dua kabupaten yang terkena dampak cukup serius oleh gempa 30 September 2009.

Bagi Jubrizal, 46 tahun, program kampanye ini sangat bermanfaat bagi radio yang dikelolanya. Sebagai radio yang memiliki pendengar yang rata-rata sudah berkeluarga dan sebagian besar terkena dampak gempa 30 September 2009 silam, iklan yang disiarkan di radio sangat berguna untuk mengingatkan kembali para pendengar tentang pentingnya ketahanan bangunan terhadap goncangan gempa. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sehari-hari bekerja di lingkungan kantor Bupati Kabupaten Agam, informasi dan media yang ada telah didistribusikan dan menjadi pusat perhatian dan diskusi bagi kolega-koleganya.

“Kami sering mendapat pertanyaan dari pendengar radio kami. Umumnya, mereka sangat tertarik mengenai iklan yang kami siarkan. Brosur dan VCD yang ada kemudian kami gunakan untuk menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal dasar mengenai bangunan aman gempa. Selain itu, soal-soal bantuan, pokmas serta proses dan cara memperoleh bantuan setidaknya sudah disinggung dalam film RAG. Kami jauh lebih mudah menjelaskan kepada mereka.“

“Sebagian besar bangunan yang terkena dampak gempa di Kabupaten Agam adalah bangunan lama dengan konstruksi bata dan kapur dicampur sedikit semen. Bangunan tersebut tidak memiliki kolom beton, angker, dan sedikit yang menggunakan besi. Tukang yang mengerjakan juga tukang-tukang bangunan yang jarang memperoleh pendidikan khusus dan berkerja berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang turun temurun. Hal tersebut diperparah oleh mentalitas tukang-tukang yang ada yang ingin cepat selesai dalam membangun dan tidak begitu peduli dengan kualitas bangunan yang dihasilkannya. Apalagi, tingkat kepercayaan masyarakat yang begitu besar kepada para tukang bangunan membuat masyarakat jarang mengawasi secara rinci proses pengerjaan bangunan mereka,“ begitu tambah Pak Jub.

Hal senada juga disampaikan oleh uda Hen, begitu Henri Ihsan biasa dipanggil di komunitas Radio Kiambang FM. Aktivis dan pekerja sosial ini sebelumnya juga terlibat dalam proses bantuan pendirian pemukiman sementara di beberapa lokasi di Kabupaten Padang Pariaman. Hal tersebut membuat dirinya jadi sering berkeliling kampung untuk melakukan assessment dan memperoleh banyak cerita pengalaman langsung dari masyarakat.

“Hal penting menurut saya dari progam ini adalah tema utamanya. Ini merupakan pandangan masyarakat tentang gempa. Sebelumnya mereka selalu menyalahkan gempa untuk korban-korban yang timbul. Padahal, korban akan semakin berkurang bila bangunan yang ada tidak mudah roboh oleh guncangan. Masyarakat di sekitar saya dan saya pribadi kemudian paham dan sangat paham bahwa petaka itu tidak semua berasal dari gempa, melainkan dari bangunan yang rubuh, tanah longsor, dan kebakaran. Pengetahuan dasar saya mengenai bangunan aman gempa, dan teknis-teknis konstruksi yang penting, saya peroleh dari film Rumah Aman Gempa.”

Pasca gempa, masyarakat di kabupaten Padang Pariaman memang mengalami trauma dan ketakutan terhadap rumah dengan konstruksi beton. Mereka yang sudah membangun kembali secara swadaya, lebih memilih bangunan semi permanen atau dengan konstruksi kayu sebagai alternatif konstruksi. Sebagai daerah dengan jumlah korban dan bangunan rusak akibat gempa yang paling besar, persoalan pembangunan kembali adalah pekerjaan rumah yang sangat berat bagi masyarakat. Proses pemulihan memerlukan dukungan semua pihak. Peran radio komunitas dalam hal ini kembali diuji kontribusinya.

“Secara pribadi, saya meng-edit bagian-bagian film Rumah Aman Gempa menjadi empat bagian. Disesuaikan dengan format audio dan saya jadikan bahan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai hal teknis membangun rumah, soal bantuan, dan prosesnya hingga yang bermanfaat dalam menghimbau mereka untuk kembali bangkit dan percaya diri. Ini inisiatif pribadi saja, karena hanya itu yang menurut saya bermanfaat bagi masyarakat dan komunitas radio ini,” tutur Henri Ihsan.

Kultur dan kebiasaan yang ada di masyarakat adalah hal yang membutuhkan waktu panjang untuk diubah ke arah yang lebih positif. Tradisi “cimeeh” atau cemooh dan ‘keras kepala’ adalah tantangan yang pertama kali harus dihadapi. Tradisi tersebut sebenarnya memiliki banyak aspek positif, namun bila tidak didasari oleh argumen yang faktual, kritik dan saran yang diharapkan dari cemoohan tersebut cenderung membiaskan informasi dan berakibat pada stagnannya arus informasi.

“Memang, kendala pertama adalah memperoleh cemoohan dari apa yang kami kerjakan. Namun lambat laun ada perubahan, saat ini kewaspadaan masyarakat jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Bila mereka membangun, memang disiapkan dengan lebih baik, tukang lebih diawasi dan mereka mau mencari informasi mengenai hal tersebut. Ada penggemar radio kami yang rumahnya cukup jauh dari studio, datang untuk bertanya dan berdiskusi tentang pembangunan rumahnya. Mereka kemudian juga membawa pulang VCD dan brosur. Film tersebut akan diputar di kedai-kedai kopi tempat mereka sering berkumpul, dan diedarkan dari pribadi ke pribadi. Mereka datang dari pelosok yang jauh, dari Cubadak, Tiku, Lubuk Mangindo bahkan dari Pasaman Barat,” ujar pak Jub.

Tradisi kritis dan tidak mudah untuk menerima informasi baru merupakan ciri khas masyarakat di pelosok-pelosok nagari di Sumatera Barat. Sebuah perpaduan antara kekolotan dan tingkat pendidikan yang rendah dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Minat baca, tingkat apresiasi serta keinginan untuk maju berkembang secara simultan dengan tradisi kritis tersebut. Proses diseminasi informasi dan pendidikan masyarakat kemudian membutuhkan kreatifitas dan mau tidak mau mengambil celah diantara tradisi dan kultur yang ada tersebut.

“Masyarakat Minang, pada umumnya memiliki budaya meniru yang sudah terbukti hasilnya. Namun cenderung kritis terhadap hal-hal yang belum terbukti. Media yang kita miliki memang memiliki keterbatasan, untuk benar-benar mengubah kesan, menghapuskan trauma hingga memunculkan kesadaran baru adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu panjang. Sekarang ini, menyarankan mereka untuk kembali membangun dengan konstruksi beton adalah pekerjaan tidak mudah. Sekalipun mereka sudah memperoleh informasi dan paham dengan konstruksi beton yang aman, tambah Henri Ihsan.

Harapan Henri Ihsan dan Jubrizal tidak muluk-muluk. Sebagai bagian dari masyarakat  yang terdampak gempa, mereka juga mengalami nasib yang sama dengan masyarakat lain yang ada di komunitas radio mereka. Mereka tidak berada jauh dari realitas yang ada di lapangan. Dalam keseharian mereka adalah bagian dari masyrakat yang peduli dengan kondisi sosial dan sangat berperan dalam komunitas Siaga Bencana.

“Kondisi ekonomi masyarakat pada umumnya masih terpuruk pasca gempa. Hanya mereka yang memiliki simpanan dan mampu secara ekonomi yang bisa kembali membangun rumah mereka. Biaya membangun rumah beton saat ini mahal, besi harganya naik. Upah tukang juga naik drastis dari biasanya. Umumnya mereka yang kurang mampu akan bertahan di rumah sementara atau rumah sanak saudara yang aman hingga bantuan pemerintah turun. Harapan kami, jika mereka nanti mampu untuk membangun rumahnya lagi, mereka menggunakan konstruksi aman gempa. Ini kan juga buat anak cucu kami di kemudian hari, ujar Pak Jub.

Henri Ihsan memiliki tambahan argumen sebagaimana yang ditemuinya di komunitasnya, “Peran kami di Radio Komunitas adalah menjadi saluran informasi alternatif bagi masyarakat. Kedekatan kami dengan masyarakat di komunitas membuat kami paham apa yang sebenarnya mereka butuhkan dalam kondisi saat ini. Saat ini mereka memang membutuhkan pemulihan dan informasi yang jelas dan pasti. Memang bukan gempanya yang perlu ditakuti, tetapi bagaimana mereka mulai benar-benar waspada terhadap bangunan rumah mereka. Apakah benar-benar berkualitas, aman, dan tidak hanya sekedar terlihat bagus. Apa gunanya rumah bagus dan mahal namun konstruksinya tidak aman terhadap gempa?”