Kampanye Membangun Lebih Baik mencapai Masyarakat Terpencil di Pariaman


Kepala Desa atau Wali Nagari Lareh Nan Panjang, Kabupaten VII, Koto, Padang Pariaman, Bapak Azrul Aswat, mempunyai tantangan untuk mengurus masyarakatnya, yang mencakup luas wilayah 1.500 hektar dan mempunyai populasi sebanyak 5.853 jiwa. Masyarakat ini sangat terkena dampak dari gempa bumi 30 September 2009 lalu. Sebanyak 1.412 rumah rusak berat, sekitar 490 rusak sedang, dan 140 rusak ringan.


Sebagai bagian dari Program Membangun Lebih Baik Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIDR), tiga pemutaran film komunitas diadakan di wilayah Bapak Azrul. Lebih dari 25 penonton sangat antusias dengan pemutaran film ini, dan mereka tinggal sampai film selesai, meskipun cuaca di lapangan sangat buruk.

Bapak Azrul menghadiri semua pemutaran film komunitas yang diadakan di wilayahnya. Ia sangat menghargai acara tersebut, serta media yang didistribusikan ke masyarakat. Ia mengatakan, “Film dan media lain yang diberikan kepada kami telah sangat membantu saya menjelaskan kepada masyarakat mengenai teknik konstruksi rumah aman gempa. Masyarakat kami cukup terpencil dan sebelum ini kami tidak mempunyai akses ke informasi semacam ini.” Ia juga menjelaskan, “Masyarakat yang mempunyai pemutar VCD diminta untuk memutar film dan mengundang tetangga mereka untuk ikut serta menonton. Hal ini akan menjadi subyek diskusi serius ketika masyarakat berkumpul. Semuanya sangat tertarik dengan isu ini di dalam pertemuan masyarakat.”


Menurut Bapak Azrul, pemutaran film komunitas merupakan strategi yang bagus untuk mencapai masyarakat di wilayah semacam ini, dimana tingkat pendidikan masih rendah dan ada keterbatasan akses ke media modern. Partisipasi tokoh-tokoh masyarakat juga sangat penting, karena di wilayah pedesaan, mereka adalah orang-orang yang dimintai saran dan keluhan mengenai setiap permasalahan.



 “Material ini akan sangat berguna untuk tetua dan pemimpin di desa kami. Dengan mengacu kepada material ini, mereka dapat membantu menyebarkan informasi bangunan aman gempa dan mengatasi isu-isu terkait dengan proses rekonstruksi dan rehabilitasi. Sekarang mereka akan mengingatkan warga kami mengenai nilai membangun kembali menggunakan teknik konstruksi yang benar.”

Di Lareh Nan Panjang, hanya beberapa orang yang dapat membangun kembali rumah mereka yang rusak. Mereka yang melakukannya, menggunakan simpanan mereka atau menjual perhiasan atau ternak mereka. Beberapa dari mereka mempunyai anggota keluarga di luar kota yang memberikan bantuan. Namun, sebagian besar masyarakat menunggu dana bantuan rehabilitasi / rekonstruksi.

“Akan butuh waktu dan usaha koordinasi untuk merubah cara masyarakat membangun rumah. Biasanya, masyarakat menyerahkan semua keputusan mengenai teknik konstruksi ke pekerja konstruksi. Jadi sikap dan praktik para pekerja konstruksi sangatlah penting,” jelasnya.


“Ada banyak tukang bangunan di wilayah kami, namun mereka kurang pelatihan formal. Akan sangat baik jika ada pelatihan untuk mereka dari pemerintah dan institusi terkait,” saran Bapak Azrul.


“Kami sangat berharap masyarakat kami dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konstruksi aman gempa dan mempraktikkan teknik konstruksi yang penting ini! Wilayah ini merupakan wilayah rawan gempa – sangat penting bagi kami untuk siap menghadapi bencana dan semua masalahnya. Dan ini juga merupakan awal yang baik untuk membangun rumah yang lebih awet dan tahan lama.” Bapak Azrul juga mengungkapkan harapannya bahwa “informasi kunci mengenai hal ini harus dihubungkan dengan mandat Pokmas.”
Comments