Peran Tokoh Agama dalam Kampanye Membangun Lebih Baik



Bapak Tarmizi adalah seorang ‘
Labai’, atau tokoh agama, di Jorong Sulayang, Nagari Lubuk Basung, Agam. Beliau adalah seorang lajang muda yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di desa kecil di Jorong Sulayang, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari pusat kota Agam. Untuk mencapai wilayah ini, seseorang harus mendaki bukit di Bukit Barisan dengan kemiringan 70 derajat dan berjarak 700 meter.

Di wilayah ini 90% masyarakatnya bekerja sebagai petani dan peladang. Gempa bumi 30 September 2009 lalu telah menghancurkan tiga saluran irigasi utama menuju ke wilayah pertanian di wilayah ini. Hal ini mempunyai dampak yang luar biasa terhadap petani lokal yang tidak mampu lagi melakukan irigasi atau bekerja di sawahnya.


Di wilayah yang terisolasi ini, masyarakat sangat menggemari hiburan. TV satelit merupakan hal yang paling umum disini. Wanita dan anak muda masih rajin menghadiri pengajian Majelis Taklim, meskipun mereka menghabiskan lebih banyak waktunya menonton opera sabun. Anak-anak disini mempelajari seni bela diri, namun mereka menghabiskan waktunya banyak untuk menonton TV dan bermain ‘Playstations’. Para senior di masyarakat cenderung untuk mengakses informasi eksternal dan media melalui stasiun TV yang lebih ‘tradisional’ seperti TV Sumatra Barat dan TVRI, dan wilayah ini tidak mempunyai liputan stasiun TV lokal.

Sekitar 150 rumah di wilayah ini hancur saat gempa bumi 30 September. Sebagian besar rumah tersebut merupakan rumah-rumah tua yang terbuat dari kapur dan pasir. Sebagian besar rumah-rumah kayu tidak terkena dampak dari gempa bumi 7.9 SR tersebut. Konstruksi rumah dari beton mempunyai cerita lain. Dari semua rumah beton baru di wilayah tersebut, hanya 15 rumah yang tidak mengalami dampak besar dari gempa bumi.


“Film dan brosur ‘Rumah Aman Gempa’ sangat bermanfaat untuk kami. Komunitas sangat antusias dan perhatian ketika film diputar di tempat pertemuan desa disini. Dan sejak pemtuaran film, topik rumah aman gempa merupakan topik utama “di jalanan”. Di kedai kopi lokal, dan tempat berkumpul lainnya, inilah yang mereka bicarakan,” jelas Bapak Tarmizi sambil tersenyum.


“Sebelum saat ini kami hanya mendengar potongan-potongan informasi mengenai bangunan semacam ini, dan hanya beberapa dari kami yang pernah mendengarnya – bahkan informasi ini sebagian besar berasal dari NGO yang melakukan kerja pemulihan di wilayah ini.”

“Namun film ‘Rumah Aman Gempa’ sangat membantu kami untuk memahami apa itu konstruksi rumah aman gempa. Kami memperoleh banyak rincian dan informasi praktis dengan menonton film tersebut, sangat masuk akal.”


“Beberapa dari kami juga menonton film tersebut kita diudarakan di TVRI, namun tidak semuanya, mungkin hanya separuh masyarakat di tempat kami. Sebagian besar warga disini, jika mereka mempunyai TV satelit, akan memilih untuk menonton saluran hiburan nasional.”

“Insya Allah, pesan-pesan penting mengenai konstruksi aman gempa dapat sampai ke masyarakat kami.” 
Comments