Semuanya Berawal dari Talkshow


Bapak Azril bekerja di TVRI Sumatra Barat. Pulau yang terletak di dekat tempat tinggalnya di Kurao Pagang retak akibat gempa bumi 30 September 2009 lalu. Sekitar 75% rumah keluarga Bapak Azril hancur total dan salah satu dari tiga anaknya yang masih kecil menderita depresi dan trauma hingga saat ini.


Karena tidak punya tempat tinggal, keluarganya terpaksa menyewa rumah sangat sederhana yang terletak tidak jauh dari rumah mereka sebelumnya. Sebagian besar rumah batu bata sederhana di Kurao Pagang yang dibangun pada awal tahun 1980 menggunakan metode konstruksi biasa dan material bangunan standar.

Ketika gempa bumi, banyak bangunan di wilayah tersebut termasuk bangunan bertingkat yang hancur. “Saya berterima kasih kepada Tuhan karena keluarga kami selamat,” katanya.


Bapak Azril ingin mencoba memperbaiki rumahnya secepat mungkin. Keluarganya membutuhkan tempat untuk tinggal dan ia cemas karena uang simpanannya terus digunakan untuk menyewa rumah sementara mereka. Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan dua anak yang duduk di bangku SD dan satu anak yang duduk di bangku SMA, simpanannya sangatlah terbatas.

Setelah ia membantu produksi salah satu talk show ‘Rumah Aman Gempa’ dimana Dr. Fauzan dari Klinik Konstruksi UNAND menjelaskan beberapa prinsip konstruksi aman gempa, Bapak Azril menjadi sangat antusias untuk mempelajari lebih lanjut. “Saya pergi ke Klinik Konstruksi dan meminta saran mengenai konstruksi untuk rumah kami. Kami menerima beberapa buku dari mereka mengenai konstruksi aman gempa.”

Setelah ia membantu produksi salah satu talk show ‘Rumah Aman Gempa’ dimana Dr. Fauzan dari Klinik Konstruksi UNAND menjelaskan beberapa prinsip konstruksi aman gempa, Bapak Azril menjadi sangat antusias untuk mempelajari lebih lanjut. “Saya pergi ke Klinik Konstruksi dan meminta saran mengenai konstruksi untuk rumah kami. Kami menerima beberapa buku dari mereka mengenai konstruksi aman gempa.”





Untuk rekonstruksi rumahnya, Bapak Azril memutuskan untuk menyewa pekerja konstruksi dari desa tempat ia tinggal. “Di desa ini lebih mudah bagi saya untuk berkomunikasi mengenai apa yang kami inginkan, dan juga hubungan keluarga yang kami miliki dengan pekerja lokal memudahkan kami untuk bernegosiasi dalam melakukan sesuatu yang baru.”

Sekarang ketika mereka mengerti prinsip konstruksi aman gempa, Bapak Azril dan istrinya dapat melakukan supervisi proses konstruksi secara langsung. “Kami mengetuk beberapa dinding dan membuat modifikasi terhadap beberapa bagian rumah. Kami juga memperdalam dan memperkuat fondasi rumah dan menambahkan 10 dan 8 mm baja untuk tiang dan memasukkan penguat untuk menempelkan baja dan dinding baru,” jelasnya. Kami mengikuti standar rekomendasi untuk campuran semen dan merendam bata sebelum digunakan. Memang memakan waktu lama untuk merendam,” katanya.

“Suatu hari pekerja kami bahkan menunjukkan kepada beberapa orang Jepang dari Klinik Konstruksi mengenai bagaimana kami mempelajari cara menembok.”

Menurut Bapak Azril dan istrinya, informasi konstruksi aman gempa yang mereka dapatkan sangat berguna dalam merencanakan rehabilitasi rumah mereka. “Meskipun biaya merupakan tantangan besar bagi kami, dapat membangun rumah yang kami percaya lebih aman sangat menenangkan keluarga kami,” jelas Bapak Azril. “Sayangnya, banyak orang di wilayah kami yang tidak mengikuti prinsip bangunan aman gempa. Jika kita menggunakan konstruksi ini sementara tetangga kami tidak, apabila gempa bumi besar terjadi lagi rumah kami dapat rusak karena bangunan sekitar,” katanya. “Kami sangat berharap untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi dan terutama peraturan rumah aman gempa dapat direalisasikan.”

Comments