Isi Kampanye RAG‎ > ‎

Artikel-artikel

Perkuatan Gedung Bertingkat di Tengah Kerawanan Gempa

Yonda Sisko 

Wartawan, tinggal di Padang

Bila sempat mengelilingi Kota Padang hingga beberapa pekan setelah gempa 30 September 2009, Anda akan dapat menyimpulkan, mayoritas bangunan yang rusak berat dan roboh akibat gempa adalah bangunan bertingkat. Sebelum pembersihan puing-puing bangunan yang roboh, sebelum berbagai gedung bertingkat diperbaiki oleh pemiliknya, pemandangan itu amat mudah terpantau. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Rumah Kita belum Aman Gempa

Abdullah Khusairi, MA 

Kolomnis

Kampanye rumah aman gempa kalah meriah dengan kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Papan reklame kampanye rumah aman gempa terpasang tidak sebanyak papan reklame para kontestan yang ikut dalam perhelatan pesta demokrasi. Dan yang lebih menyedihkan, tak ada kandidat yang berani mengedepankan wacana penanggulangan bencana dalam memenangkan hati rakyat. Sepertinya wacana kebencanaan tidak begitu penting dibandingkan dengan jargon-jargon yang "melangit" menjauhkan realitas di tengah-tengah masyarakat saat ini, khususnya di daerah korban bencana gempa. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Mitigasi Tata Ruang Kota Padang Berlandaskan Kearifan Lokal

Yose Hendra 

Wartawan, tinggal di Padang

Gempa yang sering mendera Kota Padang secara khusus dan Sumatera Barat secara umum adalah referensi terbaik untuk dijadikan sebagai acuan untuk penataan Kota Padang yang lebih baik. Pengambil kebijakan Kota Padang hendaknya bisa melakukan penataan ruang yang berbasiskan kearifan lokal pasca gempa 30 September tahun kemaren. Kearifan lokal disini adalah penyusunan tata ruang kota yang berpihak pada masyarakat dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, aspek kepentingan masyarakat kota tetap menjadi pertimbangan utama, sebagaimana tertuang dalam UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Kota. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Mengenal kerusakan Akibat Gempa

Ulvina Haviza 

Mahasiswa UNP, aktif di SKK Ganto

Indonesia memang merupakan wilayah yang terletak pada pertemuan jalur gempa utama, Pulau Sumatera salah satunya. Bencana gempa bumi selalu menimbulkan banyak korban jiwa juga korban harta benda. Namun bukan gempa buminya yang menyebabkan banyak korban, melainkan karena rusak dan robohnya bangunan buatan manusia. Untuk meminimalisasi kerusakan yang terjadi pada bangunan, agaknya masyarakat perlu mengenal, paling tidak mengetahui kerusakan seperti apa saja yang terjadi akibat gempa. Sehingga dapat mengambil pelajaran dari bencana gempa-gempa besar yang telah terjadi selama ini dan dapat melakukan pencegahan kerusakan sejak dini. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Mengevaluasi Teknis Pencairan Bantuan Rekonstruksi

Rus Akbar 

Wartawan, tinggal di Padang

Gempa 30 September telah mengakibatkan kerusakan besar bagi Sumatra Barat. Selain korban jiwa, gempa juga menghancurkan rumah masyarakat serta bangunan publik. Khusus untuk rumah masyarakat, data Tim Pedukung Teknis (TPT) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa bumi Provinsi Sumatra Barat menyebutkan, total kerusakan rumah mencapai 249.833 unit. Klik disini untuk membaca cerita lengkap... 


Rumah Kayu yang tak Takluk oleh Gempa

Febrianti

Ini cerita tentang salah satu rumah tua. Seperti kapal laut yang terkena ombak, rumah kayu coklat tua itu berederak-derak, berayun mengikuti irama gempa berkekuatan 7,9 skala Richeter pada 30 September lalu selama lebih dari satu menit.

Jarimis, 55 tahun, sang pemilik rumah yang terduduk di halaman belakang karena gempa menatap rumah tuanya dan sedikitpun tidak khawatir rumah tuanya akan ambruk. klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Antara Bantuan dan Tanggung Jawab Penanggulangan Bencana

Romi Mardela

Setiap bencana alam yang terjadi dimana-mana, akan diikuti dengan pemberian bantuan dari berbagai pihak. Sejak tanggap darurat sampai proses rehabilitasi, masyarakat korban bencana dieritakan telah menerima berbagai bantuan dari mana-mana.

Pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab untuk menanggulangai bencana di daerah bencana juga disebutkan memberikan bantuan. Klik untuk membaca cerita lengkap...

Abai di Jalur Rawan

Adek Risma Dedees
Mahasiswa UNP, Aktif di SKK Ganto

Pasca gempa 30 September tahun lalu, isu-isu akan datang gempa susulan, apakah dengan kekuatan lebih kecil atau bahkan lebih besar, selalu membayang-bayangi. Tak ayal, ini mengakibatkan kepanikan masyarakat Sumatera Barat, terutama di sepanjang pesisir pantai seperti Mentawai, Padang Pariaman, maupun kota Padang sendiri. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Hak Masyarakat Korban Bencana bukan 'Belas Kasihan'

Vino Oktavia, S.H.
Direktur LBH Padang

Kesadaran masyarakat dan segenap pemangku kepentingan mesti menjadi modal utama dalam rangka mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang mendiami wilayah-wilayah rawan bencana. Bencana alam yang selalu menghampiri atau mengusik ketenangan kehidupan kita tidak harus sepenuhnya dimaknai sebagai sebuah ancaman, apalagi menjadi ketakutan, sejatinya dijadikan sebagai 'sahabat alam' dalam upaya merumuskan langkah-langkah untuk pencegahan dan penanggulangannya. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Memperbaiki Rumah Rusak Pasca gempa

Fauzan

Dalam lima tahun terakhir, daerah pantai Barat Pulau Sumatera telah beberapa kali mengalami goncangan gempa dengan intensitas kuat. Dimulai dari gempa Aceh 26 Desember 2004 hingga gempa Pariaman 30 September 2009 lalu. Gempa terakhir yang berkekuatan 7.9 skala Richter telah menewaskan lebih dari 1.000 jiwa dan merusak 279.432 bangunan, dengan 50 persen di antaranya rusak berat. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Rumah Aman Gampo

Palanta

Kudun bamanuang-manuang surang di suduik palanta lapau Uwo Pulin. Pandangannyo jauah manarawang ka langik nan nampak agak kabua. Bantuaknyo ka turun pulo hujan.

Nan tapikia dek Kudun, lah anam bulan sasudah gampo, tapi rumahnyo nan rusak barek alun juo dipaelok-i. Samantaro hari-harinyo abih se untuak bakarajo di rumah urang nan juo samo-samo korban gampo. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

IMB Minimalisasi Kematian Akibat Gempa

Miftahul Hidayati
Aktivis Pers Mahasiswa Suara Kampus

Sampai saat ini, belum ada alat dengan teknologi canggih yang dapat mendeteksi kapan waktu terjadinya gempa. Jika tak ada antisipasi dini, ribuan korban jiwa akibat gempa 30 September 2009 akan terulang. Bukan karena gempa, tapi karena runtuhan bangunan yang tak kuat menahan goyangan gempa. Seperti kita ketahui, di Kota Padang korban meninggal dunia pada umumnya disebabkan robohnya bangunan. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Bila Bangunan Publik jadi 'Pembunuh Massal'

Andri el Faruqi
Wartawan Padang Today

Dalam kunjungannya ke Padang, 12 Maret 2010 lalu, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) meminta pemerintah daerah di Sumatera Barat dan daerah rawan gempa lainnya, memperketat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Mantan wWakil Presiden ini mengingatkan, bila IMB tidak diperketat, maka pemerintah daerah akan ikut menjadi penyebab kematian warga yang tertimpa bangunan rubuh, jika ada gempa lagi di masa mendatang. Klik disini untuk melihat cerita lengkap...


'Retrofitting' Bangunan Rusak Berat tanpa Merobohkan

Zulia Yandani 

Wartawan, tinggal di Padang

Pakar konstruksi nasional Teddy Boen mengungkapkan fakta menarik soal penanganan bangunan pascagempa 30 September 2009 lalu. Ternyata, berbagai bangunan rusak berat di Padang yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan diperkuat, ada yang telah dirobohkan oleh pemerintah daerah. Padahal, tidak semua bangunan rusak berat harus langsung dirobohkan. Diperlukan langkah-langkah pemeriksaan dari ahli konstruksi untuk melihat dengan detail sejauh mana kerusakan yang terjadi pada bangunan. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Integrasi Penanganan Bencana

John Nedy Kambang

Koordinator Jaringan Jurnalis Siaga Bencana- JJSB

SETIAP kali bencana datang, pertanyaan yang seringkali muncul adalah soal keseriusan penanganan yang dilakukan. Soalnya, fakta di lapangan selalu menunjukkan penanganan bencana yang amburadul sehingga memberi kesan pemerintah baru dalam tahap “belajar”. Padahal, negeri ini berada pada titik bencana. Sebut saja lah jenisnya. Longsor, tsunami, banjir ROB, gempa bumi, letusan gunung api, topan dan puting beliung, dan kekeringan. Semuanya pernah terjadi. Klik disini untuk membaca cerita lengkap... 

Meninjau Sejarah Arsitektur Rumah Gadang Aman Gempa

Gusriyono

Wartawan Padang Ekspres 

Artefak kebudayaan Minangkabau, termasuk hunian yang aman dan nyaman merupakan hasil budaya yang lahir dari dialektika orang Minangkabau dalam filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”. Ya, dialektika  bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). Pengejawantahan yang harmonis dan dinamis sebagaimana dinamika alam. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Merubah Paradigma Bencana Alam menjadi Pengurangan Risiko Bencana

Khalid Saifullah

Direktur Eksekutif WALHI Sumbar / Koordinator Lumbung Derma Sumbar

Provinsi Sumatera Barat dengan luas wilayah  42.297 Km2 berdasarkan data BPS tahun 2006 memiliki jumlah penduduk mencapai 4.632.152 jiwa dengan 19 Kabupaten/ Kota yang terdiri dari 519 Nagari 124 Desa 257 Kelurahan. Memiliki wilayah di jajaran bukit barisan dan di bagian barat Pulau Sumatra yang berhadapan dengan Samudra Hindia, menempatkan Sumatra Barat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Budaya Rangkiang di Ranah Bencana

Sandy Adri
Wartawan Padang Ekspres

Jauh sebelum sejarah bencana tercatat, masyarakat di wilayah Minangkabau sebenarnya telah memahami konsep mitigasi dan tanggap bencana. Khususnya untuk tiga kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan. Mengerucut untuk kebutuhan perut alias pangan, konsep tersebut terlihat dari keberadaan rangkiang sebagai Doomsday Vault atau kubah kiamat. Sebuah bangunan sangat kuat yang dibangun di kutub utara untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Bertahan Hidup di Rumah Tahan Gempa

Eri Naldi
Wartawan Tinggal di Padang


GEMPA seperti enggan menjauh dari Sumatera Barat sejak lima tahun belakangan. Terhitung sejak tahun 2005, sejumlah gempa besar tercatat terjadi di daerah yang secara geografis berada di 'bibir' pertemuan lempeng Euroasia-Indoaustralia.

Menurut sejarah, catatan gempa Sumbar saat ini masuk pada siklus dua ratus tahunan. Meskipun siklus ini tidak sepenuhnya tepat, fakta membuktikan, pasca tsunami Aceh tahun 2004, gempa seperti 'tak beranjak dari Tanah Air. Lokasinya saja yang berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lain. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...

Konsep Bangunan Aman Gempa

Dr. Febrin Anas Ismail
Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Andalas

 
Kita sama-sama menyadari bagaimana rentetan gempa yang terjadi belakangan ini mempengaruhi kehidupan kita. Korban jiwa, bangunan roboh, roda pemerintahan terganggu, ekonomi melambat dan banyak dampak lain. Namun apakah kita cukup arif mengambil hikmah dari kejadian tersebut?  Tulisan ini akan mengulas pembelajaran dari kerusakan bangunan karena tidak diterapkannya konsep bangunan aman gempa. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Kondisi Tanah untuk Bangunan di Kota Padang

Oleh: Abdul Hakam

Pakar Geoteknik Klinik Konstruksi Unand

Gempa Padang tanggal 30 September 2009 yang lalu, telah mengakibatkan terjadinya sejumlah retakan memanjang pada permukaan tanah di beberapa tempat di Kota Padang. Retakan memanjang ini masih tampak terlihat di beberapa bagian kota seperti di jalan tepi laut di Purus. Lebar retakan pada permukaan jalan itu dapat mencapai lebih dari setengah meter dengan kedalaman beberapa meter dan panjang retakan hampir 200 meter. Retakan terpanjang di Kota Padang yang diakibatkan gempa tahun lalu itu terjadi di daerah Pasir Parupuk–Tabing hingga ke Air Tawar. Panjang retakan ini mencapai kurang lebih dua kilometer. Retakan tersebut telah membelah beberapa bangunan sekolah dan rumah-rumah pada jalur yang dilintasinya. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Kewaspadaan versus Keresahan

Patra Rina Dewi
Direktur Eksekutif Komunitas Siaga Tsunami (Kogami)


‘Padang Belum Aman’, begitu headline sebuah surat kabar di kota Padang beberapa pekan lalu terkait kemungkinan terjadinya gempa besar berkekuatan 8.5 SR merujuk pendapat Prof. John Mc. Closkey dari Universitas Ulster, Irlandia Utara. Berita ini kembali mengusik perasaan sebagian masyarakat yang masih berusaha pulih dari trauma pasca gempa 30 September 2009. Tak sedikit yang kemudian menjadi resah. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Bangunan dan Kearifan Lokal

Oleh: Eko Alvares Z

Dosen Arsitektur Universitas Bung Hatta

Rentetan gempa besar yang melanda wilayah Sumatera Barat belakangan ini telah merubah kesadaran kita tentang hidup di wilayah ini. Ranah Minang yang kita cintai ini, di balik kekayaan dan keindahannya ternyata menyimpan potensi bencana atau gejala alam yang besar, baik banjir, longsor, gempa sampai dengan ancaman tsunami. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Perbaikan Kerusakan Bangunan Bertingkat

Oleh: Dr. Fauzan, M.Sc, Eng.

Ketua Klinik Konstruksi Pusat Studi Bencana Unand

Dalam lima tahun terakhir, daerah pantai Barat pulau Sumatera telah beberapa kali mengalami goncangan gempa dengan intensitas kuat. Dimulai dari gempa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 hingga gempa Pariaman pada 30 September 2009 lalu. Gempa terakhir yang berkekuatan 7.9 Skala Richter telah menewaskan lebih dari 1000 jiwa dan merusak 279.432 bangunan, dengan 50% di antaranya rusak berat. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...


Tukang dan Lapangan Kerja

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Secara berseloroh empat tahun lalu saya pernah meminta Gubernur Sumatera Barat, saat itu, Gamawan Fauzi, SH agar mengganti nama Dinas Tenaga Kerja, jadi Dinas Tenaga Tanpa Kerja. Alasan saya sederhana, dinas ini belum bekerja menyiapkan tenaga kerja.

Padahal, Sumatera Barat punya tenaga melimpah. Dalam tahun 2008 saja ada sekitar 35 ribu tamatan SLTA (MAN, SMA).Katakanlah sekitar 15 ribu dari 35 ribu tamatan SMA/MAN itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.  Lalu kemana sisanya, sekitar 20 ribu orang lagi? Bekerjakah mereka? Tak jelas. Klik disini untuk membaca cerita lengkap...