Bangunan dan Kearifal Lokal

Oleh: Eko Alvares Z

Dosen Arsitektur Universitas Bung Hatta

Rentetan gempa besar yang melanda wilayah Sumatera Barat belakangan ini telah merubah kesadaran kita tentang hidup di wilayah ini. Ranah Minang yang kita cintai ini, di balik kekayaan dan keindahannya ternyata menyimpan potensi bencana atau gejala alam yang besar, baik banjir, longsor, gempa sampai dengan ancaman tsunami.

Namun apakah potensi bencana  menyurutkan semangat kita untuk terus bertahan hidup dan membangun ranah ini.  Bagaimana dengan nenek-moyang kita yang telah menjalaninya sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Tentu kita perlu kembali menafsir ulang kearifan lokal yang mereka bangun dan wariskan, sehingga kita mampu bertahan sampai sekarang.

Bangunan, rumah atau apapun bentuk lingkungan binaan adalah hasil proses adaptasi manusia dengan alam sepanjang masa kehidupannya. Sepanjang itu pula dilahirkan kemampuan, kecerdasan dan strategi untuk bersahabat dengan alam, yang kemudian dikenal sebagai kearifan lokal.

Dapat diuraikan beberapa bentuk-bentuk kearifan lokal yang kita punyai. Dimulai dengan kemampuan memilih tapak atau lahan. Dalam pituah orang-orang tua kita dinyatakan; yang basah tempat ranangan itiak, yang munggu jadi kuburan, yang data ka parumahan. Artinya sudah sangat jeli mereka memilih lokasi untuk perumahan.  Dalam konteks kesekarangan tentu kita mesti menafsirkan pituah itu menjadi apakah rumah atau bangunan itu tidak ditempatkan di kawasan patahan kerak bumi, rawan longsor dan banjir, dan mestinya juga tidak lahan lunak yang rawan goncangan gempa.

Kemampuan untuk memilih tapak atau lahan, yang kemudian dapat berubah menjadi strategi tapak, seperti bagaimana menempatkan rumah di antara pepohonan yang rimbun supaya panas matahri dan udara dapat dikurangi, dan rumpun bambu berjejer mampu mengurangi terpaan angin yang kencang. Dialog dengan alam juga terjadi, ketika pemilihan material bangunan yang tersedia di sekelilingnya dimanfaatkan secara cerdas dan berkesinambungan. Rumah gadang (atau rumah tradisional) adalah bentuk dialog manusia dengan alam lingkungannya. Kayu-kayu besar sebagai stuktur utama diambil dengan tingkat tebang-pilih yang cermat, serta pemanfaatan bahan yang efektif sehingga tidak ada yang tersisa.

Pemilihan sistem struktur merupakan solusi dari usaha melawan gaya gravitasi secara rasional. Atau dengan kata lain rasionalitas struktur tetap terjaga dengan baik, sehingga bangunan sepertinya menyatu dengan alam. Goncangan gempa dapat diimbangi dengan sistem struktur yang tidak kaku dan elastis, hujan dan panas terik matahari disiasati oleh pemakaian material yang tahan air, dan seterusnya. Demikian pula dengan keindahan, simbol dan bentuk bangunan, adalah konsekuensi logis dari olahan material bangunan, susunan dan komposisi sistem struktur.

Bagaimana dampak gempa besar September tahun lalu terhadap bangunan di Kota Padang dan sekitarnya. Dari karakteristik kerusakan dapat kita pelajari bahwa banyaknya bangunan enjinering yang rusak dan bahkan roboh. Penyebab utama adalah tidak disiasatinya dengan cerdas rasional struktur akibat gravitasi, atau dengan kata lain persyaratan dan ketentuan teknis bangunan belum diikuti secara cermat.

Asesioris atau elemen bentuk bangunan tidak lagi merupakan konsekuensi logis dari kebutuhan komposisi struktur, tapi lebih banyak untuk mencapai bentuk-bentuk tertentu yang kadang-kala berlebihan dan bahkan berakibat merusak bangunan. Pemilihan material bangunan tidak jarang merupakan kebutuhan sekadar kosmetika bangunan tanpa mempertimbangkan daya tahan, kebutuhan fungsional dan kehandalan bangunan.

Demikian pula bentuk dan simbol bangunan yang sering tidak berdialog dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya, karena bentuk dan simbol tersebut entah datang dari mana. Pergeseran pemahaman tentang kebutuhan rumah juga terjadi, dari semula hanya sebagai tempat berlindung dari gejala alam, berubah menjadi simbol dan status ekonomi dan pangkat si penghuni. Oleh karena itu, jangan terlalu heran kalau banyak rumah atau bangunan dibangun dengan bentuk-bentuk yang tidak rasional dan lebih mencerminkan status si Pemilik.

Jika dikaitkan dengan kearifan lokal tersebut di atas, tentang bagaimana membangun bangunan atau rumah, bahwa kita masih perlu menafsir ulang kembali apa-apa yang telah dilakukan dan terjadi dimasa lalu dan mempelajarinya untuk masa sekarang. Bahwa dengan sikap yang seperti itu tentu kita akan lebih optimis dan tetap mempunyai kesadaran bahwa negeri ini tetap indah dan bersahaja. (***)

*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu.


Comments