Bertahan Hidup di Rumah Tahan Gempa

Eri Naldi
Wartawan Tinggal di Padang


GEMPA seperti enggan menjauh dari Sumatera Barat sejak lima tahun belakangan. Terhitung sejak tahun 2005, sejumlah gempa besar tercatat terjadi di daerah yang secara geografis berada di 'bibir' pertemuan lempeng Euroasia-Indoaustralia.

Menurut sejarah, catatan gempa Sumbar saat ini masuk pada siklus dua ratus tahunan. Meskipun siklus ini tidak sepenuhnya tepat, fakta membuktikan, pasca tsunami Aceh tahun 2004, gempa seperti 'tak beranjak dari Tanah Air. Lokasinya saja yang berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lain.

Potensi gempa di Sumbar tidak hanya berpusat di dasar laut, namun juga berada di darat. Jalur patahan Sumatera yang melewati sejumlah kota di pulau ini juga singgah di Sumbar, sehingga jalur gunung berapi ini juga menyimpan potensi gempa yang bisa merusak.

Dengan potensi gempa yang sedemikian besar, menimbulkan pertanyaan di sebagian besar orang yang menempati kawasan Sumatera: apa yang dilakukan agar gempa tidak lagi menjadi momok yang menakutkan? Bagaimana bersahabat dengan gempa sehingga meminimalisir korbam jiwa jika pada satu saat gempa besar kembali mengguncang?

Hingga saat ini, tidak ada ahli atau teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa terjadi dan pusat gempanya berada di mana. Sebagai masyarakat ber-Tuhan, kita percaya dua hal tersebut, kapan dan dimana gempa terjadi menjadi kewenangan pencipta. Sejauh ini para ahli baru mampu mengira-ngira besar energi gempa yang akan dilepas pada satu lokasi yang dinilai menyimpan energi gempa.

Jika pusat gempa berada di dasar laut dengan klasifikasi gempa dangkal, bencana tsunami juga mengancam masyarakat yang mendiami kawasan pesisir pantai. Ada jeda waktu sekitar 30 menit setelah gempa besar terjadi tsunami akan mengancam masyarakat pesisir. Jika semua bisa direncanakan dan diperhitungkan dengan baik, korban jiwa akan mampu diminimalisir semaksimal mungkin.

Gempa 7,9 SR akhir September 2009 lalu yang menghentak Padang, meskipun tidak diiringi tsunami, namun menewaskan lebih dari seribu orang dan merusakan konstruksi bangunan yang tidak sedikit. Ribuan rumah warga dan sejumlah fasilitas umum yang semestinya berfungsi melindungi penghuninya, berubah menjadi mesin pembunuh yang dalam sekejap menewaskan banyak orang.

Hotel Ambacang, contohnya. Ratusan orang meregang nyawa karena kondisi bangunan yang porak poranda akibat diguncang gempa. Pakar rumah aman gempa Teddy Boen dalam bukunya yang bercerita tentang rumah aman gempa menegaskan bahwa konstruksi bangunan sangat menentukan keselamatan penghuninya saat gempa terjadi.

Sumbar sebenarnya memiliki pengetahuan tentang pembangunan rumah aman gempa. Namun, konsep tersebut masih berjalan sebatas pembangunan rumah panggung yang sebagian besar menggunakan material kayu. Saat modernisasi menghampiri, konsep rumah kayu ditinggalkan dan beralih ke rumah batu. Sayangnya, konsep rumah batu yang berkembang saat ini belum memenuhi standar bangunan rumah aman gempa.

Pasca gempa, fakta membuktikan, rumah yang dirancang dengan sedemikian rupa mampu bertahan dari guncangan gempa. Masih kokoh berdiri meskipun dipenuhi retakan disana-sini. Sebagian besar rumah warga yang dibangun seadanya, rusak berat karena diguncang gempa.

Meskipun faktanya demikian, bukan berarti konsep rumah aman gempa hanya milik orang berduit. Pernyataan tersebut didukung ahli dari klinik kosntruksi Dr. FebrinAnas Ismail. Untuk membangun rumah aman gempa diperkirakan memakan biaya Rp 1,2 juta untuk setiap satu meter perseginya.

Yang terpenting, saat memulai membangun rumah impian aman gempa, material bangunan seperti besi dan sambungan antarbeton menjadi sangat menentukan. Dilema yang terjadi pasca gempa kemarin, sambungan antarbeton seringkali terlepas dan menimbulkan kerusakan parah pada konstruksi bangunan sehingga tak mampu menahan beban. Untuk bangunan rumah warga, ahli rumah aman gempa menyarankan, agar besi yang digunakan tidak di bawah standar. Warga bisa mengukurnya sendiri dengan menggunakan meteran sebelum membelinya dari toko bangunan. Selanjutnya, setiap tiang, slof, mesti saling terkait sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Ibarat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan, konsep rumah aman gempa diyakini mampu meminimalisir korban jiwa saat gempa mengguncang. Bagaimanapun, usaha terbaik untuk bertahan di daerah rawan gempa hanyalah dengan mempersiapkan konstruksi bangunan yang maksimal melindungi penghuninya.

Tentunya, bagi bangunan publik yang berfungsi sebagai shelter, konsep konstruksi aman gempa tidak bisa ditawar-tawar. Kita telah melihat dan merasakan, betapa fasilitas umum menjadi mesin pembunuh bagi penghuninya saat gempa 7,9 SR mengguncang Sumbar.

Tentunya, ke depan, kita tidak mengharapkan kasus serupa akan kembali berulang karena kelalaian dan keterlambatan kita menyadari hidup di negeri 'seribu gempa'. (*)

Comments