Budaya Rangkiang di Ranah Bencana

Sandy Adri
Wartawan Padang Ekspres

Jauh sebelum sejarah bencana tercatat, masyarakat di wilayah Minangkabau sebenarnya telah memahami konsep mitigasi dan tanggap bencana. Khususnya untuk tiga kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan. Mengerucut untuk kebutuhan perut alias pangan, konsep tersebut terlihat dari keberadaan rangkiang sebagai Doomsday Vault atau kubah kiamat. Sebuah bangunan sangat kuat yang dibangun di kutub utara untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia.

Hebatnya, orang Minangkabau, meskipun hanya dengan bangunan sederhana bernama rangkiang, telah sadar akan bencana mengancam jauh sebelum United Nations (UN) membangun kubah benih di sebuah gunung beku di Kepulauan Svalbard, Norwegia, 1100 kilometer dari kutub utara menghadapi kemungkinan terburuk bencana yang diprediksi mengancam dunia.

Litosfer, lapisan bumi tempat kita berpijak di atas kumpulan gas panas yang terikat gravitasi, tidak luput dari bencana. Sebagai manusia yang berke-Tuhan-an kita hanya bisa berikhtiar. Bagian dari upaya tersebut, sebagai pengejawantahan makhluk yang tak berputus asa, adalah menyiapkan segala sesuau untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Nah, ketika bencana terjadi, sadar atau tidak, kita merasakan ketidaksiapan sebagai wujud ikhtiar. Bagaimana tidak, belum setengah hari bencana terjadi, semua aspek kehidupan lumpuh. Sampai-sampai, ketika perut keroncongan tak terobati. Anak-anak, orang tua cepat merasakan dampak langsung dari ketidaksiapan tersebut. Kenapa hal ini bisa terjadi, tak lain dan tak bukan karena kita tidak memiliki cadangan pangan untuk kondisi darurat. Sejauh ini, banyak di antara kita menganggap tabungan terbaik baru sebatas dollar atau emas.

Dan memang, lagi-lagi sejarah memberikan pelajaran. Di Minangkabau, nenek moyang yang eksis di Bukit Barisan sejak gunung Merapi sebesar telur itik (guyonan, red), sudah meletakkan fondasi mitigasi bencana. Selain rumah gadang sebagai tempat tinggal yang akrab dengan bencana, bagian dari kompleknya, rangkiang, mengandung filosofi mitigasi.

Rangkiang yang melambangkan kemakmuran terdiri atas bermacam jenis. Apapun jenisnya, bangunan ini terkait erat ketahanan pangan, kesinambungan kehidupan pertanian dan penghormatan terhadap pihak-pihak yang dimuliakan. Tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, rangkiang dibangun tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, melainkan termuat pula nilai-nilai politik-sosial-budaya.

Kian sirnanya rangkiang mengarah pada petunjuk kemakmuran yang beralih makna pada wujud kebendaan lain. Namun apakah transformasi itu disertai nilai-nilai sebenarnya? Masihkah masyarakat hidup tenang-damai karena kecukupan isi "lumbung" sementara tetangga dan sanak-saudara pasti rela berbagi di saat mereka membutuhkan? Sebab seperti itulah fungsi sosial rangkiang awalnya.

Setiap rumah gadang memilii rangkiang yang berderet di halaman depan. Nama Rangkiang berasal dari kata ruang hyang yaitu ruang untuk Dewi Sri, dewi padi. Ada tujuh macam rangkiang sesuai dengan fungsi padi yang tersimpan di dalamnya. Pertama, si miskin pergi menunggu, lumbung untuk berhemat.

Kemudian, si majo kayo, lumbung untuk persiapan pesta. Berikutnya, mandah pahlawan (rangkiang kaciak), fungsinya untuk menyimpan padi abuan (benih). Kemudian, fungsi ini juga menjaminnya kesinambungan persediaan untuk pengerjaan sawah musim berikutnya. Rangkiang ini rendah, tidak bergonjong, dan ada kalanya berbentuk bundar.

Ada juga rangkiang sitinjau lauik. Fungsinya, sebagai persiapan jika menjamu tamu dan membeli barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi sendiri. Terdiri dari empat kolom dan sebuah ruang penyimpan padi. Selanjutnya, rangkiang si bayau-bayau atau lumbung tuo atau lumbung pusako. Fungsinya untuk makan sehari-hari. Berdiri di atas enam kolom, rangkiang ini memiliki dua buah ruangan.

Nah, rangkiang jenis berikutnya adalah si tanggung lapa. Lumbung ini merupakan persiapan ketika masa paceklik. Baik paceklik panen ataupun ketika bencana datang dan tidak bisa melakukan aktivitas keseharian. Rangkiang jenis ini tentunya dekat dengan konsep mitigasi. Sedia payung sebelum hujan. Jadi tidak perlu menunggu bantuan datang. Kalaupun persediaan di lumbung kita tidak cukup, tentunya. Konsep ini, sebenarnya telah dipakai di sejumlah negara yang dekat dengan bencana. Sebut saja Jepang. Dimana, masyarakat di negara tersebut selalu men-stok makanan dan kebutuhan lainnya untuk tiga hari. Jadi, dengan adanya persiapan tersebut, masyarakat tidak perlu memekik lagi ketika bantuan dari pemerintah terlambat datang.

Kemudian ada juga rangkiang harimau paunyi koto, lumbung raja. Kabarnya, rangkiang ini menyimpan padi untuk upeti. Kalau dibawakan ke konsep kekinian, prinsip rangkiang ini sama halnya dengan tabungan untuk membayar pajak atau zakat. Sempurna, dan sejalan dengan konsep mitigasi. Lalu, kenapa tidak kita kembalikan saja rangkiang itu kembali. Kalaulah tidak bangunannya, konsepnya saja sudah cukup untuk menghindari keketar-ketiran kita ketika bencana.

Bentuk rangkiang hampir sama dengan rumah gadang, atapnya bergonjong dengan kolong lebih rendah dari bangunan rumah gadang. Seluruh rangkiang tidak berjendela dan tidak berpintu. Hanya ada bukaan kecil di bagian atas dari salah satu segitiga lotengnya. Dindingnya mengembang ke atas. Terdapat tangga (mabu) untuk menaiki rangkiang yang dapat dipindah-pindahkan untuk keperluan lain.

Spesifikasi fungsi rangkiang menunjukkan kekayaan masyarakat agraris Minang. Tak hanya melimpah-ruahnya hasil pertanian sehingga dapat dibagi-bagi pada banyak rangkiang, tetapi juga kekayaan hati mereka untuk membagi-baginya pada yang membutuhkan. Nah, terlepas dari itu, kesiapan untuk menjaga kemungkinan buruk tibanya masa paceklik, sudah ada sejak dulu. Setua Minangkabau itu. Sayang, sudah terlupakan.

Bagi pemerintah, untuk dapat mewujudkan suatu kehidupan yang layak untuk seluruh rakyatnya, diperlukan suatu aset dan sumber daya yang tidak sedikit serta waktu yang sangat lama, bahkan mungkin tidak akan pernah terwujud. Alhasil, jika konsep ini terwujud, tidak akan ada lagi permasalahan yang berakibat terjadinya kecemburuan antar masyarakat yang menerima bantuan dan yang tidak menerima bantuan.

Comments