Kondisi Tanah untuk Bangunan di Kota Padang

Oleh: Abdul Hakam

Pakar Geoteknik Klinik Konstruksi Unand

Gempa Padang tanggal 30 September 2009 yang lalu, telah mengakibatkan terjadinya sejumlah retakan memanjang pada permukaan tanah di beberapa tempat di Kota Padang. Retakan memanjang ini masih tampak terlihat di beberapa bagian kota seperti di jalan tepi laut di Purus. Lebar retakan pada permukaan jalan itu dapat mencapai lebih dari setengah meter dengan kedalaman beberapa meter dan panjang retakan hampir 200 meter. Retakan terpanjang di Kota Padang yang diakibatkan gempa tahun lalu itu terjadi di daerah Pasir Parupuk–Tabing hingga ke Air Tawar. Panjang retakan ini mencapai kurang lebih dua kilometer. Retakan tersebut telah membelah beberapa bangunan sekolah dan rumah-rumah pada jalur yang dilintasinya.

Selain diakibatkan oleh goncangan gempa yang keras, retakan tersebut dapat terjadi karena kondisi tanah. Lapisan tanah pasir yang cukup dalam dan tidak padat, bila digoncang-goncang akan cenderung bergerak dan memisah. Peristiwa ini dalam bahasa teknik dikenal dengan istilah ‘lateral spreading’ yang artinya pergerakan memisah pada arah mendatar. Pergerakan ini berbeda dengan pergerakan arah vertikal atau yang sering dikenal dengan ‘longsor’. Bila longsor dapat menimbun manusia dan bangunan yang dilaluinya, maka retakan lateral ini ‘hanya’ mengakibatkan terbelahnya rumah, jalan dan patahnya pipa-pipa.

Pergerakan tanah ini dipelajari dalam bidang goteknik yaitu ilmu teknik yang mempelajari keadaan tanah untuk keperluan bangunan. Ditinjau dari segi geoteknik lapisan tanah di Kota Padang dapat dibagi menjadi tiga bagian umum. Pertama, jenis tanah lempung yang terbentang di daerah timur Kota Padang. Jenis tanah ini relatif tidak banyak mengalami gangguan atau kerusakan akibat gempa.

Jenis kedua adalah tanah gambut yang terbentang mulai dari Lubuk Buaya di utara terus ke Tabing dan Tunggul Hitam, hingga ke arah Ulak Karang dan Belanti di selatan. Jenis tanah ini mempunyai daya dukung yang jelek sehingga tidak bagus sebagai tanah dasar untuk pondasi bangunan. Bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah ini seharusnya menggunakan pondasi yang dalam seperti sumuran (pondasi cincin) ataupun pondasi tiang. Pondasi tiang relatif jarang digunakan untuk bangunan rumah biasa karena dianggap mahal dan sulit dikerjakan. Sesungguhnya saat ini Universitas Andalas telah mengembangkan jenis pondasi tiang-rakit yang sangat cocok dan relatif murah digunakan untuk bangunan rumah diatas tanah gambut.

Jenis tanah yang ketiga adalah tanah pasir. Tanah pasir yang baik adalah tanah pasir yang padat. Pondasi bangunan rumah sangat tidak baik bila diletakkan diatas tanah pasir yang lepas (tidak padat). Karena tanah pasir yang tidak padat, bila digoyang akan mengakibatkan terjadinya gerakan tanah kearah laterah yang dapat menimbulkan retakan pada permukaan tanah dan bangunan diatasnya. Selain itu, pada muka air tanah yang dangkal (hingga kedalaman tujuh meter), bila digoyang gempa yang cukup keras dapat menimbulkan peristiwa likuifaksi. Likuifaksi adalah peristiwa melunaknya tanah pasir lepas yang basah, sehingga tidak mampu lagi menahan beban bangunan. Akibat likuifaksi, bangunan menjadi amblas ke dalam tanah, lantai bergelombang dan retak, ataupun terjadinya kemiringan. Peristiwa ini banyak terjadi di daerah tepi-tepi sungai yang kondisi tanahnya adalah tanah pasir lepas seperti di daerah Lapai, Muaro Padang dan sebagainya.

Selain mengakibatkan amblas dan miringnya bangunan, likuifaksi juga menyebabkan turunnya permukaan tanah hingga beberapa puluh centimeter. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya genangan air (banjir) pada saat musim hujan. Untuk itu pada daerah-daerah yang telah terjadi likuifaksi akibat gempa yang lalu, masyarakat disarankan untuk melakukan gotong-royong guna memperbaiki (memperdalam dan memperlebar) selokan air di sekitarnya.

Dengan beragamnya kondisi tanah di Kota Padang dan pengaruhnya terhadap keamanan bangunan diatasnya, maka kepada masyarakat sangat disarankan untuk melakukan sedikit pengujian keadaan tanah sebelum mendirikan bangunan. Pemilik bangunan hendaknya melakukan pengujian tanah untuk menentukan jenis tanah, kondisi lapisan tanah dan kedalaman tanah keras. Untuk bangunan rumah rakyat yang biasa-biasa saja, dapat melakukan konsultasi mengenai keadaan tanah dan jenis pondasi yang cocok kepada tenaga ahli secara cuma-cuma.

*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. (***)


Comments