Konsep Bangunan Aman Gempa

Dr. Febrin Anas Ismail
Ketua Pusat Studi Bencana Universitas Andalas

 
Kita sama-sama menyadari bagaimana rentetan gempa yang terjadi belakangan ini mempengaruhi kehidupan kita. Korban jiwa, bangunan roboh, roda pemerintahan terganggu, ekonomi melambat dan banyak dampak lain. Namun apakah kita cukup arif mengambil hikmah dari kejadian tersebut?  Tulisan ini akan mengulas pembelajaran dari kerusakan bangunan karena tidak diterapkannya konsep bangunan aman gempa.

Sebelumnya, kita sering mendengar istilah bangunan tahan gempa. Belakangan, istilah itu berubah menjadi rumah aman gempa atau rumah ramah gempa. Kenyataannya, memang tidak ada rumah yang tahan gempa. Kemungkinan rusak masih ada, minimal kerusakan kecil. Namun, masih aman terhadap penghuninya, sehingga disebut sebagai rumah aman gempa.

Bangunan aman gempa dibuat sesuai standar minimal yang ditetapkan oleh para ahli  dan dituangkan dalam peraturan gempa (SNI-2002). Bila terjadi gempa kecil, bangunan aman gempa tidak akan rusak sama sekali, baik komponen non-struktur (komponen arsitektural) seperti dinding, plafon, atap, pintu dan jendela, maupun komponen struktur (komponen penopang bangunan) seperti pondasi, tiang, balok, sloof, dan kuda-kuda. 

Bila terjadi gempa dengan ukuran sedang, bangunan bisa rusak, tetapi hanya komponen non-strukturnya saja, sedangkan komponen struktur masih aman. Sementara, bila terjadi gempa besar, bangunan boleh rusak baik non-struktur maupun struktur, tetapi tidak boleh roboh karena dapat membunuh penghuninya. Untuk itu, tiang atau kolom harus lebih kuat dari balok (dalam istilah awam disebut sloof) sehingga energi gempa akan terserap oleh rusaknya balok terlebih dahulu dan diharapkan setelah gempa berakhir tiangnya masih utuh atau tidak patah.

Konsep ini akan bekerja kalau tiga hal berikut dipenuhi yaitu: 1) ukuran komponen bangunan sesuai persyaratan minimal, 2) semua elemen bangunan tersambung dengan baik, dan 3) pembangunan dilaksanakan dengan kontrol kualitas yang ketat.

Ukuran komponen bangunan sangat penting karena terkait dengan kemampuan untuk memikul beban gempa yang terjadi. Ukuran diperoleh setelah ada analisa struktur yang prinsipnya menyamakan antara beban yang bekerja dengan kemampuan komponen bangunan yang memikulnya. Untuk rumah tembok sederhana satu lantai, syarat minimal beberapa komponennya adalah sebagai berikut: ukuran tiang 12x12 cm, balok/sloof 12x20 cm, ukuran besi memanjang minimal 4 buah diameter 10 mm, dan besi pengikat (begol) diameter 8mm dengan jarak 15 cm dengan ujungnya dibengkokkan 135o.

Ukuran pondasi sangat ditentukan oleh kondisi tanah. Makin jelek tanah (seperti pada daerah rawa atau timbunan), maka makin dalam pondasi. Rata-rata untuk rumah sederhana satu lantai, kedalaman pondasi batu kali lebih kurang 80 cm. Sedangkan untuk rumah kayu, ukuran kayu struktur utama rata-rata 8/12cm dan 6/12 cm,  disesuaikan dengan jarak bentangannya. Sementara itu, untuk bangunan bertingkat, ukuran bangunan harus dihitung oleh ahli struktur agar didapatkan ukuran yang sesuai.

Di samping itu, sambungan antar komponen bangunan juga merupakan hal penting. Pada bangunan yang rusak atau roboh, sering terlihat lepasnya hubungan antar komponen, seperti antara pondasi dengan tiang, tiang dengan balok, tiang dengan dinding, tiang dengan kuda-kuda, dan lain-lain. Untuk itu, penyambungan harus dibuat saling terkait agar bila ada gempa tidak mudah terlepas. Harus ada stek atau angkur-angkur dari besi sebagai pengait antar komponen, seperti antara pondasi dengan tiang, tiang dengan dinding, balok dengan dinding, atau tiang dengan kuda-kuda. Untuk sambungan kolom dengan balok atau penyambungan antara besi, perlu dibuat overlapping atau terusan sehingga ada penyaluran beban secara mulus.  Bagi bangunan sederhana rumah masyarakat, panjang besi penyaluran minimal 40 d (d=diameter tulangan) atau 40 cm untuk tulangan diameter 10 mm. Sementara itu, untuk konstruksi kayu, penyaluran dilakukan dengan penambahan skor disetiap sambungan.
 
Kualitas bangunan aman gempa juga sangat ditentukan oleh kualitas material yang digunakan. Untuk rumah tembok, kualitas material yang harus dikontrol adalah adukan beton, besi, bata, mortar (plesteran), dan kayu. Adukan beton yang baik untuk rumah sederhana adalah dengan perbandingan 1 semen, 2 pasir, dan 3 krikil. Kemudian diaduk sampai masak dengan menggunakan air secukupnya (1/2 bagian). Air sangat menentukan kekuatan beton. Makin banyak air, mutu beton akan semakin rendah. Besi yang digunakan juga sebaiknya yang berstandar SNI (Standar Nasional Indonesia) karena sudah mengikuti uji mutu. Jangan gunakan besi tanpa SNI.

Bata perlu diuji secara sederhana dengan memijak bata yang diletakkan di dua landasan. Kalau tidak patah, maka kualitasnya baik. Begitu pentingnya pengujian tersebut, sampai ada joke yang beredar, ada yang menguji ketahanan bata dengan cara memukulkannya ke kening. Menurut joke itu, kalau batanya pecah, berarti mutunya tidak baik, sebaliknya kalau kening berdarah, mutunya baik.

Sebelum dipasang, sebaiknya bata direndam terlebih dahulu dalam air. Untuk mortar, mutu yang baik adalah 1 semen dan 4 pasir. Sedangkan untuk kayu, gunakan kayu yang kering dan mata kayunya tidak banyak. Gunakan bahan pengawet, agar kayu tahan lama.

Ketiga hal di atas jika dilakukan dengan betul, insya Allah bangunan akan aman tergadap gempa. Memang biaya bangunan aman gempa ini lebih mahal kira-kira 30% dari bangunan biasa, namun nilai itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan nilai kenyamanan kita selama menghuni bangunan tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. (***)


Comments