Mengenal Kerusakan Akibat Gempa

Ulvina Haviza

Mahasiswa UNP, aktif di SKK Ganto

Indonesia memang merupakan wilayah yang terletak pada pertemuan jalur gempa utama, Pulau Sumatera salah satunya. Bencana gempa bumi selalu menimbulkan banyak korban jiwa juga korban harta benda. Namun bukan gempa buminya yang menyebabkan banyak korban, melainkan karena rusak dan robohnya bangunan buatan manusia. Untuk meminimalisasi kerusakan yang terjadi pada bangunan, agaknya masyarakat perlu mengenal, paling tidak mengetahui kerusakan seperti apa saja yang terjadi akibat gempa. Sehingga dapat mengambil pelajaran dari bencana gempa-gempa besar yang telah terjadi selama ini dan dapat melakukan pencegahan kerusakan sejak dini. 

Secara umum kerusakan yang terjadi akibat gempa beraneka ragam, hal ini sangat tergantung pada skala kekuatan gempa itu sendiri. Dari semua fakta yang terjadi, secara umum kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa 30 September lalu tergolong ke dalam empat bagian kerusakan. 

Pertama, kegagalan pada soft story, yaitu menunjuk pada kondisi keruntuhan gedung yang biasanya terjadi pada gedung berlantai lebih dari satu. Bangunan yang di lantai bawah lebih lunak daripada lantai di atasnya, atau dapat dikatakan lantai di atas lebih keras atau kaku dibanding lantai di bawahnya. Sebagian besar bangunan di Kota Padang mengalami kerusakan soft story ini, seperti banyak ruko-ruko berlantai dua atau tiga yang kehilangan lantai satunya/roboh. Sementara lantai di atasnya masih dalam keadaan baik-baik saja. Namun soft story ini juga ada yang terjadi di bagian tengah, seperti pada gedung BII, soft story terjadi di lantai dua bangunan, sementara lantai satu dan tiganya masih dalam keadaan baik. 

Kedua, detail bangunan yang tidak tepat. Di dalam perencanaan bangunan tahan gempa, juga harus memahami filosofi keruntuhan sebuah bangunan, yakni kolom tidak boleh hancur lebih dulu dibandingkan balok. Namun kebanyakan keruntuhan pada kolom bangunan yang terjadi disebabkan sengkang kolom yang kecil dan kurang, serta bangunan menggunakan tulangan polos. Padahal menurut aturan SNI Beton 2002 disebutkan bahwa diameter minimum untuk tulangan sengkang (lateral) elemen kolom, khususnya dalam memikul beban gempa adalah 10 mm. Meskipun boleh polos namun sebaiknya ulir. Sedangkan untuk tulangan, mesti menggunakan tulangan ulir. 

Ketiga, kerusakan pada dinding bata yang kebanyakan terjadi karena tidak adanya struktur yang cukup untuk menahan dinding terhadap arah lateral gempa. Meski pada beberapa bangunan lain dinding batanya sudah dikekang dengan baik, tapi ikatannya terhadap beton kurang begitu kuat sehingga batanya tidak mampu menahan energi gempa. 

Lalu, kerusakan terakhir terjadi pada mutu beton yang kurang baik. Dibeberapa bangunan, tulangannya masih terpasang dengan rapi, sengkang tidak terlepas, tulangan utama tidak berhamburan, tapi justru inti betonnya yang hancur lebur yang menandakan kualitas beton yang terpasang kurang baik. 

Selain mengidentifikasi kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa di Sumbar, kerusakan yang terjadi pada bangunan rumah tinggal secara umum juga dapat dimasukkan ke dalam beberapa katergori. Yaitu, kategori kerusakan ringan non struktur, kerusakan ringan struktur, kerusakan struktur tingkat sedang, kerusakan struktur tingkat berat, serta kerusakan total - semuanya digolongkan berdasarkan ciri-ciri kerusakannya. 

Misalnya, pada kerusakan ringan non struktur, terdapat retak halus pada plesteran dengan lebar celah lebih kecil dari 0,075 cm serta serpihan plesternya berjatuhan. Sedangkan pada kerusakan ringan struktur, adanya retak kecil pada dinding yang mencapai lebar celah 0,075 hingga 0,6 cm. Selain itu terjadi kerusakan pada bagian-bagian nonstruktur seperti lisplang dan talang, namun kemampuan struktur utama untuk memikul beban tidak banyak berkurang. Untuk langkah perbaikan kedua kategori ini cukup dilakukan secara arsitektur tanpa perlu mengosongkan bangunan. 

Sementara itu pada kerusakan struktur tingkat sedang, terdapat retak besar dengan celah lebih besar dari 0,6 cm yang menyebar di beberapa tempat termasuk pada kolom dan balok. Di samping itu kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian, namun masih tetap layak huni. Sedangkan pada kerusakan struktur tingkat berat, apabila sekitar 50 persen struktur utama mengalami kerusakan. Dinding pemikul bebannya terbelah dan runtuh serta bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat. Terakhir pada kerusakan total, bangunan roboh seluruhnya atau lebih dari 65 persen serta sebagian besar komponen utama struktur rusak dan tak layak huni lagi. 

Setelah mengetahui berbagai kerusakan bangunan akibat gempa, yang dapat kita usahakan adalah membuat kerusakan bangunan tersebut jadi seminimal mungkin. Seperti dengan pemilihan material bangunan yang ringan serta memperhatikan agar struktur pondasi, kolom, balok juga struktur atap menyatu dengan sambungan yang memadai saat membangun rumah.  

Namun selain struktur bangunan, perlu juga memperhatikan interior rumah dengan mempertimbangkan situasi setiap ruangan di dalam rumah. Seperti, benda apa saja yang mungkin bisa jatuh dan menimpa kita. Selain itu perlu mengatur barang-barang berat untuk ditempatkan di lantai. Untuk lemari sebaiknya diikat ke dinding dengan dipaku, skrup atau diberi siku, dan benda-benda yang mudah terbakar harus disimpan di tempat yang aman dan tidak mudah pecah. Jadi, jangan sesalkan gempanya, namun lakukan pencegahan dengan memperbaiki konstruksi bangunan yang kurang memenuhi syarat, baik itu dalam segi perencanaan maupun pada waktu pelaksanaan. (***) 
 

*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. 

Comments