'Retrofitting' Bangunan Rusak Berat tanpa Merobohkan

Zulia Yandani 

Wartawan, tinggal di Padang

Pakar konstruksi nasional Teddy Boen mengungkapkan fakta menarik soal penanganan bangunan pascagempa 30 September 2009 lalu. Ternyata, berbagai bangunan rusak berat di Padang yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan diperkuat, ada yang telah dirobohkan oleh pemerintah daerah. Padahal, tidak semua bangunan rusak berat harus langsung dirobohkan. Diperlukan langkah-langkah pemeriksaan dari ahli konstruksi untuk melihat dengan detail sejauh mana kerusakan yang terjadi pada bangunan. 

Teddy Boen dalam bukunya ‘Cara Memperbaiki Bangunan Sederhana yang Rusak akibat Gempa Bumi’ memaparkan dengan jelas, soal retrofitting. Istilah ini merupakan salah satu cabang ilmu konstruksi yang melingkupi perbaikan, restorasi dan perkuatan bangunan yang rusak akibat gempa. 

Sebelum sampai pada langkah tersebut, hal yang harus dilakukan adalah melakukan klasifikasi terhadap kerusakan bangunan. Bila selama ini hanya dikenal tiga klasifikasi, yakni bangunan rusak berat, sedang dan ringan, sebenarnya bila dirinci kerusakan tersebut melingkupi lima kategori, yakni bangunan rusak ringan non struktur, rusak ringan struktur, rusak sedang, rusak berat dan roboh. 

Kerusakan bangunan rusak ringan non struktur biasanya retak halus pada plesteran, serpihan plesteran berjatuhan mencakup luas yang terbatas. Retak halus maksudnya lebih kecil dari 0,75 mm. Untuk jenis ini, hanya perlu diperbaiki secara arsitektur. 

Kategori kedua adalah rusak ringan struktur, dengan  cirri retak kecil pada dinding, plesteran berjatuhan mencakup luas bagian-bagian nonstruktur. Retak kecil, lebar celahnya tak lebih dari 0,5 cm. Kekuatan bangunan ini memikul beban tidak banyak berkurang. Bangunan kategori ini, juga hanya membutuhkan perbaikan (repair) yang bersifat arsitektur. 

Untuk bangunan kategori rusak sedang, cirinya adalah retak besar pada dinding yang menyebar luas di banyak tempat, seperti pada dinding pemikul beban dan kolom. Retak besar, lebar celahnya lebih dari 0,5 cm. Kemampuan bangunan, sudah berkurang sebagian. Tindakannya, bangunan perlu dikosongkan dan perlu dilakukan restorasi serta perkuatan (strengthening). Restorasi dilakukan terhadap komponen struktur yang rusak dan kalau perlu dilakukan perkuatan untuk menahan beban gempa. Setelah itu, baru dilakukan perbaikan (repair) secara arsitektur. 

Untuk kategori keempat adalah: rusak berat.  Kerusakan akan terlihat pada dinding pemikul beban yang terbelah dan roboh. Komponen-komponen pengikat mengalami kegagalan sehingga menyebabkan bangunan terpisah. Sebanyak 40% atau lebih dari komponen struktur utama mengalami kerusakan, sehingga membuat bangunan sangat berbahaya. Ada dua pilihan, berdasar jenis kerusakan, bangunan  dapat dirobohkan atau dilakukan restorasi dan perkuatan secara menyeluruh sebelum dihuni kembali. 

Kategori kelima adalah bangunan yang roboh yakni yang sebagian besar atau seluruh bangunannya sudah roboh. Sisa-sisa bangunan harus dibersihkan dari lokasi. Bahan bangunan yang masih bisa dipakai, dikumpulkan untuk menjadi bahan pembangunan kembali. 

Dari lima kategori tersebut, yang sering menimbulkan bias adalah pada bangunan rusak berat. Karena tidak ada penilaian dari ahli konstruksi, sebagian bangunan rusak berat yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan diperkuat, malah sudah dirobohkan. Sebenarnya, sebelum diperlukan langkah-langkah retrofitting dari ahli kosntruksi.. 

Langkah-langkahnya adalah dengan melakukan survey untuk menentukan jenis kerusakan dan mutu bahan bangunan. Kemudian, melakukan analisa untuk menentukan penyebab kerusakan berdasarkan jalur gaya (load path) pada waktu menahan goncangan gempa. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah suatu komponen rusak karena gaya geser, tekan, tarik, lentur, penjangkaran atau yang lainnya. 

Setelah itu, baru bisa ditentukan apakah banguna perlu diperkuat atau tidak. Bila biaya perkuatan malah lebih besar dari pada membangun kembali, maka tentu lebih baik dirobohkan. Namun, bila perkuatan jauh lebih hemat dari pada membangun kembali, maka tentu lebih baik dilakukan langkah-langkah retrofitting. 

Teddy Boen memaparkan dengan jelas strategi retrofitting terdiri atas peningkatan kekakuan dan atau kekuatan, peningkatan daktilitas, peningkatan energi dispasi, merubah karakter gerakan tanah dengan menggunakan base isolation dan merubah bentuk peruntukan bangunan. 

Peningkatan kekuatan bisa dilakukan antara lain dengan jalan menambah dinding baru, mempertebal dinding geser, pemasangan bandage (kawat ayam) di kedua sisi dinding sebelum diplester, atau sistem jacketing dengan menambah tulangan besi tambahan. 

Tulisan sederhana ini, tidak akan bisa menjelaskan secara rinci dan teknis soal tenik retrofitting. Namun, setidaknya, hal yang harus digarisbawahi adalah tidak semua bangunan rusak berat harus dirobohkan, karena ada teknik retrofitting untuk perbaikan dan perkuatan. Teknik tersebut, bisa dipelajari dari buku panduan atau melalui bantuan dari ahli konstruksi. 

  

Hal ini penting diingatkan, karena bila semua bangunan (terutama milik pemerintah) dirobohkan tanpa kajian yang mendalam, akan memakan banyak anggaran untuk pembanguan kembali. (***) 

*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. 


Comments