Rumah Kayu yang tak Takluk oleh Gempa

Febrianti

Ini cerita tentang salah satu rumah tua. Seperti kapal laut yang terkena ombak, rumah kayu coklat tua itu berederak-derak, berayun mengikuti irama gempa berkekuatan 7,9 skala Richeter pada 30 September lalu selama lebih dari satu menit.

Jarimis, 55 tahun, sang pemilik rumah yang terduduk di halaman belakang karena gempa menatap rumah tuanya dan sedikitpun tidak khawatir rumah tuanya akan ambruk.

Namun, tak jauh di sebelahnya, dinding bata rumah baru yang sedang dibangunnya runtuh, tak mampu menahan getaran gempa. Padahal rumah itu hampir rampung, dindingnya tinggal diplester.

Setelah gempa berlalu, ia bergegas naik ke rumah tua yang telah ditempatinya selama 55 tahun. Di atas rumah tidak terlihat barang-barang bergeser, emari, televisi dan barang-barang rumah tangganya tetap berada di tempat. Hanya beberapa gelas dalam lemari yang posisinya rebah.

"Sebenarnya lebih aman di rumah kayu seperti ini, kalau gempa tidak rusak, di dalamnya juga aman. Saat eberapa kali gempa besar dulu, saya pernah sedang berada di atas rumah dan rasanya seperti naik kapal laut yang terkena ombak, tidak ada dinding yang retak atau jatuh, karena semua dari kayu," kata Jarimis, warga Kelurahan Pisang, Padang memuji rumah tuanya.

Rumah tua berwarna coklat tua tanpa cat itu warisan keluarganya yang dibangun kakeknya pada 1935. Disebut Rumah Gadang Padang, dengan atap yang tanpa bagonjong.

Rumah gadang berukuran 9 x 8 meter itu dibuat seperti rumah panggung, tingginya dua meter dari tanah dengan 16 tiang. Empat tiang berjejer masing-masing menopang bagian beranda hingga bagian belakang rumah. Tonggak rumah ini terbuat dari sebatang pohon kayu keras dan bulat dengan diameter 20 cm. Uniknya 4 tiang bagian dalam mirip pohon yang meliuk dan tidak lurus, bahkan ada dua tiang utama yang paling tinggi langsung menopang atap rumah, menjulang seperti sebatang pohon.

Menurut Jarimis, jenis kayu yang digunakan adalah kayu Banio dan Surian yang tua dan keras, mulai dari dinding hingga tiangnya sehingga dinding rumah hingga tiang berwarna coklat tua. Untuk pemeliharaan agar tidak lapuk, rumah cukup ditinggali dan disapu setiap hari.

"Kalau rumah tua tidak dihuni akan berdebu dan cepat lapuk. Lihat rumah ini, sudah 74 tahun masih bediri, sudah dipakai tiga generasi," katanya.

Rumah Gadang Padang ini seluruh bahan dasarnya dari kayu, kecuali atap yang menggunakan seng. Ke-16 tiang rumah tidak langsung ditanam di tanah, tetapi berada di atas pondasi batu yang datar dengan posisi tiang vertikal.

Selain untuk menghindari agar kayu lapuk, tiang di atas umpak batu ini juga fleksibel terhadap guncangan gempa. Setelah gempa, tidak terlihat ada tiang yang bergeser dari umpak batu.

Rumah Gadang ini siste, sanbungan sendi-sendi rumah menggunakan banyak pasak kayu yang diselipkan di bagian pertemuan struktur kerangka utama. Tidak menggunakan tanpa paku atau baut, sehingga lentur terhadap guncangan gempa. Ditambah lagi dengan dinding kayu yang ringan, atap seng yang ringan, dan ditopang banyak tiang yang kokoh sehingga tahan terhadap guncangan gempa. Tinggi kolong rumah 2 meter.

Tidak hanya rumah tua Jarimis yang tak takluk oleh gempa, setelah gempa 30 September lalu, di beberapa tempat yang masih memiliki rumah gadang di Kota Padang seperti di Seberang Padang, Kuranji dan Pauh hampir tidak ada rumah gadang yang rusak. Yang mengalami kerusakan hanya bangunan tambahan yang dibuat belakangan seperti tambahan dapur dari bangunan batu bata atau tangga dari semen. Kebanyakan bangunan tambahan ini retak dan roboh karena gempa.

Tinggal di salah satu jalur ring of fire dunia, di atas patahan yang selalu bergerak, mungkin nenek moyang kita sudah lebih dulu bersiasat dengan membangun rumah kayu yang bisa bergerak seirama gempa. Mereka telah mewariskan bangunan tradisional yang aman gempa dan tidak gampang roboh. Seperti kata Jajang Pamuncak di iklan-iklan televisi, bukan gempanya, tapi bangunannya.

Kini saatnya kita berpaling lagi ke rumah tradisional. Rumah kayu yang ramah lingkungan.

Saatnya pula mulai berinvestasi menanam pohon. Bisa dimulai dengan menanam lima batang pohon surian tiap keluarga agar tak sulit mencari kayu untuk membangun rumah.

Bila setiap keluarga muda menanam surian, dalam waktu 20-30 tahun pohon itu sudah bisa ditebang untuk membangun rumah anaknya. Begitu anaknya punya keluarga, ia akan menanam surian untuk penerusnya. Dengan melestarikan rumah tradisional, sekaligus juga melestarikan lingkungan. (***)

*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik 'Rumah Aman Gempa' yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikanlebih dari A$ 15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu.

Comments