Tukang dan Lapangan Kerja

Oleh H. Fachrul Rasyid HF

Secara berseloroh empat tahun lalu saya pernah meminta Gubernur Sumatera Barat, saat itu, Gamawan Fauzi, SH agar mengganti nama Dinas Tenaga Kerja, jadi Dinas Tenaga Tanpa Kerja. Alasan saya sederhana, dinas ini belum bekerja menyiapkan tenaga kerja.

Padahal, Sumatera Barat punya tenaga melimpah. Dalam tahun 2008 saja ada sekitar 35 ribu tamatan SLTA (MAN, SMA).Katakanlah sekitar 15 ribu dari 35 ribu tamatan SMA/MAN itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.  Lalu kemana sisanya, sekitar 20 ribu orang lagi? Bekerjakah mereka? Tak jelas.

Yang pasti tahun 2008 di Sumatera Barat tercatat 171 ribu pengangguran. Mengingat terbatasnya investasi, pembukaan lapangan kerja baru, lalu, rendahnya minat generasi muda memasuki lapangan kerja bidang pertanian, diperkirakan angka pengangguran itu tak banyak berubah dari tahun ketahun. Karena itu saya menawarkan alternatif lapangan kerja pertukangan alias tukang bangunan bagi tamatan SMA/MAN itu. Lapangan kerja ini baik untuk bangunan pemerintah, swasta atau milik penduduk terus menerus terbuka sepanjang tahun.

Kalau saja Dinas Tenaga Kerja mau mengatur program kerjasama dengan Dinas Ciptakarya, kini Tata Ruang dan Pemukiman di bawah Dinas Kimpraswil/PU yang membidangi konstruksi bangunan, kemudian bersama Pemda Kabupaten/Kota dan pengelola Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada, setidaknya tiap tahun sekitar 2000 tamatan SMA/MAN bisa dibiayai untuk dididik jadi tenaga pertukangan. Dan, itu sekaligus menjadi jalan pintas bagi tenaga tak siap kerja jadi siap kerja.

Kita percaya bidang pertukangan lebih diminati. Sebab, ilmu pertukangan sudah jadi keterampilan rakyat Sumatera Barat sejak dahulu kala. Tukang-tukang di Sumatera Barat sudah lama mengenal bagaimana teknik konstruksi yang benar, baik konstruksi kayu maupun konstruksi beton, termasuk bangunan aman gempa yang kini sedang ramai disosialisasikan.

Sayang, regenerasi tenaga pertukangan di Sumatera Barat berlangsung lamban dan tradisional. Transformasi ilmu konstruksi dan keterampilan bertukang nyaris berlangsung dalam lingkaran keluarga, terutama terhadap mereka yang tak bersekolah atau putus sekolah, secara alami melalui proses meniru.

Mereka boleh dibilang terdidik keadaan dan bahkan keterpaksaan. Artinya, mereka tak memperoleh pendidikan/ pembekalan ilmu dan pengenalan teknologi yang berkembang. Jika kebetulan tukang yang membawanya punya keterampilan lebih, maka anak buah alias pekerjanya akan mendapat keterampilan yang memadai. Jika tidak, keterampilan pekerja yang kemudian jadi tukang membangun rumah penduduk secara apa adanya. 

Akibatnya, selain jumlah tukang terus berkurang,  keterampilannya menurun dan upahnya pun lebih mahal dibanding di daerah lain. Tak heran, jika di saat jumlah pengangguran membengkak, pengusaha konstruksi Sumatera Barat justru mendatangkan tenaga tukang dari Sumatera Utara atau Pulau Jawa. Merekalah rata-rata yang mengerjakan sebagian besar bangunan pemerintah atau swasta di Sumatera Barat lebih sepuluh tahun terakhir. Sementara tukang lokal hanya berkutat di sekitar bangunan penduduk kelas sederhana.

Kini, pasca gempa berkekuatan 7,9 SR 30 September 2009 lalu kebutuhan tenaga tukang sangat terasa. Maklum, akibat gempa itu sebanyak 114.797 bangunan mengalami rusak berat, 67.198 rusak sedang dan 67.838 rusak ringan. Untuk rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan sebanyak dibutuhkan tenaga tukanya sekitar 15 ribu orang. Jika tenaga itu tersedia di Sumatera Barat, paling tidak untuk dua tiga tahun ke depan sekitar 15 ribu tenaga kerja bisa tertampung.

Kalau saja  Dinas Tenaga Kerja bekerjasama dengan Dinas Tataruang dan Pemukiman, Pemda Kabupaten/Kota dan BLK yang ada mendidik tenaga tukang sejak empat tahun lalu, setidaknya separuh dari tukang yang diperlukan rekonstruksi/rehabilitasi pasca gempa isa diserap dari tamatan SMA/MAN itu.

Momen pascagempa ini seharusnyalah memotivasi Pemda dan DPRD Sumatera Barat untuk memprogramkan pendidikan/ regenerasi tenaga tukang tersebut. Dan, perguruan tinggi yang ada pun diharapkan menyumbangkan pengetahunanya bagi generasi mendatang. Sebab, persoalan pertukangan bukan hanya sebatas kepentingan lapangan kerja tapi juga budaya. Mengingat, tukang pada dasarnya adalah budayawan/ seniman. Kalau mau budaya arsitektur Minangkabau diwariskan tentu tenaga tukang Minang pun harus diwariskan dari generasi ke generasi. Harap diingat, peradaban satu bangsa akan dilihat dari bangunan yang dibuatnya

Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. (*)


Comments