Dialog Interaktif - Metode Membangun Rumah Aman Gempa


Dialog Interaktif Idep Foundation di RRI Padang tanggal 4 Maret 2010. 
(Kerjasama kemitraan Australia-Indonesia < BNPB, Pemprov Sumbar, dan Pusat Studi Bencana Unand dan Yayasan Idep)

Pewawancara : 
1. Yudi Yudistira

Narasumber :
1. Febrin Anas Ismail ( Ahli Konstruksi)
2. Rida S. Putra (Kepala Balai Uji Dinas Pekerjaan Umum)

Yudi : 
Mengapa timbul konsep dan filosofi rumah aman gempa?

Febrin Anas Ismail : 
Jadi, kalau kita amati, gempa ada yang kecil, sedang, dan besar. Nah, intinya kalau kita berada di wilayah rawan gempa, ada peluang rumah kita rusak karena gempa  yang besar tersebut. Persoalannya adalah kalau kita mendesain rumah yang aman dari gempa besar, pasti biaya mahal sekali. Sedangkan kejadiannya itu mungkin terjadi 500 tahun sekali. Nah, disini ada filosofi tentang masalah ekonomis dan masalah keamanan. Intinya, kalau kita bikin bangunan, kalau gempa besar datang, pasti ada peluang rumah kita rusak. Tetapi prinsipnya, rumah yang rusak itu jangan sampai membunuh. Sehingga muncul istilah "rumah yang aman gempa". Mengapa dia tidak tahan gempa karena kalau terjadi gempa pasti ada komponen bangunan yang rusak, itu lumrah dan wajar seperti dinding yang retak-retak. Jadi, kalau kita sebutkan tahan gempa tidak cocok, makanya istilahnya berubah jadi aman gempa atau ramah gempa.

Jadi, filosofi bangunan aman gempa itu sesuai dengan gempa  ada tiga (3) yakni gempa ringan, sedang, dan besar. Jadi, bangunan aman gempa tersebut adalah kalau dia kena gempa ringan , maka tidak boleh rusak sama sekali. Nah, kalau kita lihat komponen bangunannya terdiri dari komponen struktural yakni komponen yang menopang bangunan atau mendukung bangunan, biasanya rangkanya. Kalau di manusia disebut tulang. Rangkanya mulai dari pondasi, tiang (kolom), balok (sluf), dan kuda-kuda.

Kemudian juga ada komponen non struktural. Sifatnya tidak mendukung tapi pengisi. Atau sifatnya arsitektural. Seperti, bata, pintu, kusen, plafon, dan atap yang sifatnya pembatas atau penutup. Jadi, kalau dalam konsep bangunan tahan gempa, komponen struktural dan non struktural akaibat gempa ringan tidak boleh rusak sama sekali. Kedua, kalau terjadi gempa sedang, maka komponen non struktural boleh rusak, tapi komponen struktur tidak boleh rusak. Ketiga, kalau terjadi gempa yang besar, maka strukturnya tidak akan mampu menahan, pasti akan rusak, tetapi yang aman itu, dia tidak boleh roboh. Mekanisme ini dalam eningeering bisa dilakukan yaitu dengan memberi kekuatan yang lebih pada penyanggah penopang vertikalnya atau tiang kolomnya, sedangkan yang lainnya diperlemah. Nah, kalau terjadi gempa, komponen yang lainnya akan retak dan kalau retak, energinya terserap dikomponen tersebut. Retak itu adalah proses penyerapan energi. Sehingga ketika getaran selesai, karena tiang tadi kuat, dia tidak akan terganggu karena energi terserap pada yang lain, sehingga bangunan tidak roboh. Ini bisa dilakukan untuk merekayasa dengan filosofi rumah aman gempa.

Yudi: 
Pentingnya masyarakat mengetahui, rumah mereka itu rumah aman gempa?

Rida : 
Bangunan rumah aman gempa atau tahan gempa sebenarnya sudah tertuang dalam standar norma perumahan manual. Di lingkungan PU sudah di SNI kan. Intinya, sebenarnya rumah aman gempa itu tidak terlalu jauh beda dengan rumah-rumah masyarakat sekarang, cuma ada titik-titik tertentu yang harus diketahui masyarakat. Apa prinsis-prinsip yang harus diketahui kalau membangun rumah aman gempa. Misalnya, kata Pak Febrin tadi, bangunan harus tersambung secara utuh, mulai dari pondasi, sluf, kolom, balok, atap membangun satu kesatuan, dan tidak boleh terpisah. Sehingga kalau terjadi goyangan tidak mengalami kerusakan. Prinsip pokok lainnya adalah material.  Material yang digunakan harus memenuhi syarat standar. Tahun 1994 ketika terjadi gempa Liwa, Padang juga kena gempa 6,2 SR. setelah gempa tersebut, PU sudah membuat rumah tahan gempa di belakang kantor PU di taman Siswa, sampai sekarang masih bertahan dan utuh. Intinya, disitu ada tambahan pengetahuan bagi masyarakat, tukang, yang perlu diketahui tentang bangunan rumah tahan gempa. Sehingga rumah yang tahan gempa itu tidak sulit membangunnya, tapi apa yang perlu dan penting dilakukan.

Yudi : 
Desainnya sendiri berbeda dengan rumah pemukiman biasa atau ada desain khusus?

Febrin : 
Kalau kita lihat jenis rumah, materialnya macam-macam. Ada yang rumah kayu, rumah tembok atau kayu, dan juga rumah semi permanen. Yang banyak runtuh akibat gempa adalah rumah tembok karena rumah tembok kita tidak didesain tahan gempa. Dilihat sejarahnya, rumah tembok ini munculnya pada tahun 1970-an. Sebelumnya kita banyak menggunakan rumah kayu, seperti rumah adat. Ketika income  meningkat, di kampung-kampung rumah tembok jadi status sosial. Kalau belum punya rumah tembok, ada asumsi masih terbelakang. Persoalannya adalah teknologi rumah tembok aman gempa ini belum diadopsi oleh tukang-tukang di kampung dan mereka hanya melihat di kota-kota dan secara otomatis mereka memasang di kampung. Tanpa tahu kalau di daerah rawan gempa, ada perlakuan khusus untuk membangun rumah tembok. Secara prinsip Rumah tembok itu ada beberapa komponen yaitu batubata dan beton. Batu bata dan beton tersebut ketika goyang atau tarikan lemah sekali. Namun, kalau tidak ada gempa dia kuat karena tertekan dengan beratnya. Tetapi kalau gempa ada beban dari samping karena digoncang. Karena lemahnya beton dan batu bata tersebut, maka perlu material yang mampu menahan tarikan tersebut yaitu besi. Sehingga muncul kombinasi beton dan besi yang dinamakan beton bertulang. Setelah dikombinasikan maka ketika bergoyang karena tarikan, besi tersebutlah yang menahan. Namun itu belumlah aman, poinnya adalah disetiap sambungan tersebut, ujung besi harus dikoneksikan dengan benar. Karena besi tertarik dan copot, maka betonnya yang menahan. Makanya perlu ada ikatan atau overlaping di setiap sambungan secara kuat. Ada standar minimunnya yaitu 40 D yang dibikin overlaping. Intinya, overlaping itu untuk mengikat besi ketika terjadi tarikan karena ada yang menjangkar di titik tersebut. Termasuk batubatanya, jangan dibiar lepas antara tiang dengan kolom. Perlu angkur-angkur bata untuk penahan roboh. Prinsip-prinsip pengangkuran  dengan besi itu salah satu untuk menahan bangunan tersebut ketika dihoyak atau ditarik-tarik masih kuat adan oke. Engker itu menahan tarikan tersebut. Dengan dibuat angkur semua, maka ketika terjadi tarikan, Insya Allah angkur tersebut bekerja. Kekuatan tekan beton dan bata 20 kali dari kekuatan tariknya. Kalau ditekan 20 kali baru pecah, maka kalau ditarik 1 kali maka akan pecah.

Yudi :
Untuk rumah aman gempa di daerah rawan gempa, seperti Padang karakter tanahnya seperti apa?

Rida : 
Kita di Padang kurang beruntung karena tanah Padang kurang keras. Di Padang ada lapisan lunak. Dari pemukaan ada lebih kurang 6 meter- 12 meter terdiri dari lapisan pasir, rasio tanah 1,5 meter dari permukaan. Setelah itu, ada lapisan 20-30 meter ada lapisan yang lebih lunak, jadi kita seperti berada di atas 'agar-agar'. Setelah itu, 30-an meter kebawah baru didapatkan lapisan yang stabil seperti, pasir, kerikil dan tanah padat. Jadi, dengan kondisi tanah tersebut, kita rentan keruntuhan penurunan atau yang dinamakan likuivasi. Sehingga bangunan yang tinggi dianjurkan pondasinya mencapai tanah yang keras. Untuk rumah sederhana, cukup kita menginprof tanah-tanah yang lunak saja karena bangunan biasa terutama rumah sederhana tidak membutuhkan daya dukung. Tapi, yang harus diwaspadai adalah pengaruh likuivaksi yang turun sehingga kita membutuhkan sluf yang cukup kuat. Kalau dia turun, sebaiknya dia turun bersama-sama. Cuma, kalau rumah sederhana tidak terlalu besar penurunan. Biasanya 1 cm, 0,5 cm sampai 2 cm penurunan. Tetapi, kalau bangunan gedung yang pondasinya dangkal, sangat berbahaya sekali. Misalnya hotel yang rubuh karena pengaruh likuivasi. Disarankan supaya bangunan-bangunan yang diklasifikasikan berat atau bertingkat, itu soal investigasinya harus tajam karena sangat berbahaya sekali.

Damai (Penelpon dari Bukittinggi) : 
Punya rumah di Tabing, dengan tanah rawa, bagaimana kalau membangun rumah kembali apa yang harus dilakukan pertama kali?

Rida : 
Waktu proses terjadinya gempa, ketika terjadi goncangan, air tanah memberikan tekanan yang kuat, kalau dia bisa keluar keatas, dia akan menyemprot keatas. Tapi, yang berbahaya dari bangunan, kalau dia menyemprot ke samping maka butirannya lepas tapi tanah akan stabil lagi. Cuma kalau bangunan itu sudah turun, terpaksa berhenti disitu. Karena kalau di inkruf lagi membutuhkan biaya yang besar. Cuma, kalau ingin membangun rumah yang baru tentunya kita beri kekuatan-kekuatan dengan mengubah material pada pondasi atau dengan memberi carocok-carocok yang merupakan kebiasaan orang tua-tua dulu buat dolken, karena kayu dolken tahan terhadap air sehingga bisa dirubah. Tapi kalau bangunan sederhana tidak mungkin besar, sehingga pondasi tetap pondasi dengan kedalaman 80 cm dengan melakukan inklumen saja karena beban tidak besar. Tetapi disarankan tapaknya agak lebar karena kalau lebar tegangan tanah itu kecil sehingga pengaruh penurunannya tidak terlalu besar. 

Yudi : 
Bagaimana perbandingan biaya rumah aman gempa dengan pembangunan rumah yang biasa ?

Febrin : 
Memang agak lebih biaya pembangunan rumah aman gempa karena standar minimalnya rumah sederhana adalah besi 10, tetapi yang lazim kita lihat dilapangan masyarakat cenderung menggunakan besi 8 untuk tulang yang memanjang, sementara pengikat atau sengkang adalah besi 6. Rumah yang biasa itu juga jarang pakai spek-spek atau angker pengikat yang mengurangi biaya. Jadi, secara garis besar, perbandingan biayanya adalah maksimal 30% persen lebih mahal biaya pembangunan rumah aman gempa dibandingkan dengan rumah biasa. Saya kira 30% itu jika dibandingkan dengan keselamatan ya tidak apa-apa daripada kita cemas terus menerus.

Yudi : 
Dimana titik-titik yang paling rawan di Padang yang memerlukan rumah aman gempa?

Rida : 
Jadi, pembentukan Padang kemungkinan berdasarkan laut, seperti RRI sekarang. Pada umumnya kurang lebih Andalas itu arah ke Barat posisinya dulunya adalah laut sehingga daerah itu rawan. Kalau daerah itu ada lapisan lunak sehingga kita memakai serat secara hati-hati karena goncangan gempa itu membesar. Sedangkan daerah Andalas bagian keatas, tanahnya cenderung agak stabil. 

Yudi : 
Apakah pengaruh kedekatan kota Padang dengan laut berpengaruh terhadap konstruksi bangunan bertingkat?

Febrin : 
Jadi, khusus bangunan bertingkat membangun bangunan yang aman terhadap gempa harus diprediksi semua beban yang bekerja dan juga mengecek kapasitas bangunannya yaitu komponen struktur yang ada mulai dari pondasi sampai struktur diatasnya. Pertama, mengecek tanah yang lunak. Dengan kondisi tanah yang lunak maka daya dukung juga lunak. Kalau tanah lunak digoncang gempa maka prilakunya juga akan beda seperti mengalami amplikasi atau pembesaran tanah lunak. Dari goncangan yang besar tersebut dalam peraturan gempa kita maka beban akan diperbesar kalau berada di tanah lunak. Semua beban-beban itu akan dimodelkan. kalau di struktur ada model analisa struktur. Semua beban-beban dimasukkan kedalam software struktur tersebut. Kemudian dihitung berdasarkan kondisi yang ada mulai dari tanah lunak, beban gempanya, kondisi struktur. Akhirnya, dari output program tadi akan keluar dengan ukuran-ukuran sesuai dengan beban yang akan bekerja. Prinsipnya adalah semakin lunak tanahnya makin besar gempanya akan keluar dimensi ukuran struktur yang lebih besar. Nah, disini struktur ada tulangan. Jumlah tulangan juga akan bertambah lebih banyak. Nah, disini baru dari aspek dimensionalnya. Yang penting lainnya dari rumah tahan gempa adalah aspek difiling yaitu penyambungan-penyambungan antar elemen struktur tadi. Meskipun ukuran sudah betul, jumlah besi sudah betul, tapi kalau cara menyambungnya tidak betul maka akan berisiko copot. Ini adalah aspek yang perlu diperhatikan membangun di daerah rawan gempa. Nah, yang paling penting lagi adalah pelaksanaan. Jadi, kita sudah gambar, direncanakan dengan betul, hitung dengan betul, namun yang paling sering terjadi di kota Padang adalah pelaksanaan dilapangan sering tudak sesuai dengan ada yang digambar. Misalnya, bentuk beton. Bentuk beton di gambar adalah 250 kilogram/cm2, tapi pelaksanaan di lapangan melenceng karena mencampur betonnya, air terlalu banyak, ukuran terkurangi, besinya juga begitu. Besi yang ukuran digambar 20 atau 22 namun besi yang di beli dilapangan berkurang 20. Jadi, untuk membangun rumah bertingkat tadi kalau semua aspek dilaksanakan dengan baik, Insya Allah bangun tersebut aman dari gempa. Walau gempa besar terjadi besar sekalipun yang memungkinkan bangunan runtuh, kerobohan bisa dihindari kalau tiangnya kuat.

Damai : 
Apakah berbeda kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa tektonik dengan gempa vulkanik?

Febrin : 
Sebenarnya vulkanik itu gunung api. Kalau di Bukittinggi itu pusat gempanya adalah di darat yaitu patahan sumatera yang tergolong pada tektonik. Sedangkan di laut yang sering terjadi selama ini seperti di Mentawai itu juga tektonik tetapi dilaut karena kita diapit oleh dua pusat gempa termasuk patahan. Bagaimana getaran yang sampai ke bangunan kita? Sebenarnya getaran tersebut sangat tergantung media penjalaran getaran tersebut misalnya tanah dan bebatuan yang ada di bawah banguna kita. Umumnya kalau kita merancangakan bangunan, bagusnya kita merekam bunyi getaran dengan bangunan. Sehingga prediksi getaran akan terjadi hampir pasti seperti itu berulang terus karena tanahnya persis. 
Perbedaan antara di laut dengan di darat itu sebenarnya kalau tanahnya masih itu maka prilaku tidak akan begitu berbeda. Namun, ada perbedaan karena pengaruh frekuensi getaran. Tetapi secara umum kondisi tanah dimana kita berada tersebutlah yang akan menentukan besaran getaran yang terjadi.

Yudi : 
Perbandingan kerusakan akibat gempa yang di Padang dengan Chili pengaruhnya pada metode bangunan?

Rida : 
Traffic engeenering Chili relatif sudah siap dalam membangun terhadap kemungkinan gempa karena sudah berpengalaman pada ancaman gempa. Mereka sudah maju dalam membangun bangunan tahan gempa. Selain Chile, ini juga terjadi di Jepang dan California. Mereka melakukan riset rumah tahan gempa. Di surat kabar kita bisa melihat keyakinan engeneernya dalam membangun rumah aman gempa yang berkekuatan 8,8 SR. Di Indonseia sendiri riset tersebut ada pada standar pedoman manual PU juga ada. Risetnya dilakukan di Bandung dan Jakarta. Kita juga melihat, gempa yang melanda Padang, rumah yang dibangun tahan gempa tidak terjadi apa-apa. Kemudian gedung, dimana gedung BIM sama sekali tidak terjadi kerusakan kecuali atap yang merupakan non struktural. Yang intinya, apa yang dikatakan Pak Febrin itu benar ditambah kualitas material. Kualitas material itu harus mengikuti standar nasional seperti, bata harus punya kekuatan 30 kilogram/cm2. Begitu juga mortar dan betonnya. Mutu betonlah yang menyebabkan bangunan rubuh. Dari pengalaman kita ketika mengawasi bangunan BIM memang kualitas kontrolnya memang ketat., sehingga kita lihat tidak terjadi kerusakan. Ini bisa jadi pedoman kita. Mutu material yang digunakan di BIM memang sesuai dengan standar yang ada di SNPM kita. 

Yudi : 
BIM adalah sarana publik yang membutuhkan keamanan yang total, apakah di pemukiman bisa hal tersebut dilakukan?

Febrin : 
Jadi, sebenarnya momentum pas bagi kita dalam budaya membangun. Karena gempa ini peristiwa yang tidak terjadi setiap hari ada. Misalnya, dari tahun 1970 sampai sekarang mungkin tidak banyak gempa besar yang terjadi. Artinya, gempa yang terjadi jarang, maka kita bisa belajar banyak dari situ. Disini, untuk  budaya membangun rumah aman gempa bagi sipemilik dan tukang tersebut harus sadar membangun dengan kaidah bangunan yang aman dari gempa. Tukang selama ini tidak peduli membangun rumah yang tahan gempa. Ini terjadi karena mereka tidak tahu, sehingga dia hanya membangun dengan cara mereka. Sekarang dia sudah sadar, bangunan yang mereka bangun sudah digoncang kiri kanan yang perlu besi dan perlu diikat dengan baik. Nah, kita perlu sosialisasi ke seluruh daerah di Sumatera Barat harus membangun kaidah rumah yang tahan gempa. Si pemilik juga harus mendukung hal ini. Misal, si pemilik harus mendukung si tukang untuk menggunakan besi 10. Si pemilik bisa mendukung dengan pendanaan yang lebih untuk membangun rumah. Jika kombinasi ini terjadi maka akan tercapai rumah yang aman gempa. 

Ida (Penelpon dari Jl. Samudera, Padang) : 
Kalau membangun rumah di tepi laut/pantai berapa kedalaman pondasinya ?  Ukuran besi untuk pondasinya berapa ? Apa beda besi Medan dengan besi Jawa ?

Febrin : 
Sebenarnya masalah produk material untuk bangunan ini perlu ditertibkan karena perbedaan ukuran besi yang terjadi karena dibiarkan. Kita punya standar nasional, kalau besi ukuran 10 tersebut sampainya di masyarakat memang harus 10. Kalau dia kurang dia nyatakan 10, itu bisa distop, tidak perlu ditutup pabriknya. Jangan sampai masyarakatnya dibiarkan memilih. Ini kan sepertinya masyarakatnya tidak paham, dia beli besi 10 yang didapatkan besi 8. artinya, secara struktur juga bermasalah sangat besar. Memang kelihatannya murah, tapi fatal akibatnya karena jumlah besi 4 diameter 10, ketika dipasang 4 menjadi diameter 8 karena harganya lebih murah. Saran saya, bagian yang mengurusi  masalah izin produksi atau pasar kalau ada di Sumbar tidak ada yang memenuhi standar stop saja atau tidak dibolehkan beredar di sumbar. Termasuk bata, tadi Pak Rida mengatakan, bata itu minimal 30 kilogram/cm2 seperti di BIM. Kalau pemerintah tegas, itu kekuatan produksi bata yang kekuatannya di bawah 30 kilogram/cm2 ditutup karena itu bentuk proteksi terhadap masyarakat umum. Begitu juga dengan bahan material lain. Sehingga kalau itu dilakukan tidak ada standar dibawah kualitas yang beredar di Sumbar. Rumah pun aman gempa. Itu salah satu proteksi yang bisa dilakukan oleh otoritas (pemerintah) kita. Bahan material yang berkualitas yang beredar di Sumbar, beberapa persen bisa mengurangi resiko keruntuhan akibat gempa.

Rida : 
Bu Ida, kalau lantai 1 kita sarankan supaya pakai panrus, cuma lebarnya kalau kita tanpa memperhitungkan gempa mungkin cukup 60-80 cm. tapi kita juga harus hati-hati bangunan itu jangan sampai turun. Kalau dalam teknikal engeenering turun 2 cm/ 20 meli saja dianggap gagal. Kita menghindari lewat dari 20 meli. Sehingga Kita memang menyarankan agar di safetykan dan dilewatkan. Sama seperti di BIM yang aman dari gempa. Tapi ini bisa berlaku di tanah yang keras. Tanah di tepi laut, relatif pasir tapi untuk membangun rumah masih bagus. Tapi untuk rumah bertingkat beban sangat besar jadi harus hati-hati. Dia butuh 12 ton permeter lari kalau pakai platnerus dan  30-40 ton kalau pakai pailing, dan juga hati-hati soal kedalaman sampai daerah yang stabil yang tidak terjadi penurunan ekspasi.

Yudi : 
Daerah yang stabil dimana saja?

Rida : 
Kalau tanah itu susah memastikannya, karena itu diperlukan investigasi untuk meyakinkan kita karena yang akan dibangun adalah aset bernilai jutaan. Kalau memang ingin membangun bangunan yang berat dan mahal, maka kita harus dilakukan investigasi bidang tanah. Pada umumnya di Padang bisa dibantu oleh UPTD Balai Pengujian PU. 

Yudi : 
Bisakah kalau ada masyarakat yang minta di uji tanahnya ?

Rida : 
Bisa pak. Termasuk material konstruksi.

Wahid (Penelpon dari Air Mancur/ Lembah Anai) : 
Bagaimana cara menindaklanjuti bahan material terutama kualitas bata yang tidak memenuhi standar SNI?

Febrin : 
Sebenarnya, memang pemerintah punya Standar Nasional Indonesia (SNI). Kalau di baja ada ditempelkan SNI. Kalau ada standar itu berarti, sudah memenuhi  standar ukuran dan kekuatan. Tetapi kalau itu tidak ada, maka diragukan kualitasnya termasuk ukurannya. Makanya ada muncul istilah besi banci, besi medan karena memang produk ini mengikuti uji SNI yang ada sehingga kita berhak menerima itu. Tetapi persoalannya mengapa beredar, inilah yang perlu diperhatikan dan dijaga. Termasuk standar bata yang 30 kilogram/cm≤ harus terpenuhi. YaÖ ada semacam permintaan dan suplai dari masyarakat kita karena tingkat beli masyarakat rendah karenaem bayar mahal dengan kualitas ketika terjadi gempa, bangunan yang roboh, nyawa taruhannya. Jadi, memang tidak semua yang murah itu untuk membantu masyarakat, justru ada hal-hal penting yang harus kita jaga. (Bagian 6) yang menjaga itu adalah otoritas dengan cara proteksi karena mereka punya berpengetahuan dan tahu yang dijaga.  Hal itu merupakan cara perlindungan terhadap konsumen. Insyaallah kita bisa mendapatkan kualitas bata, besi dan lain-lainnya yang lebih baik.

Rida : 
Untuk kualitas baja adalah pabrikasi seperti baja Krakatau di Jawa. Mengenai batu bata, sebenarnya Sumbar kaya akan mineral dan banyak. Kalau bata terdiri dari klin yang cukup bagus. Tetapi dilihat dari pengalaman kita, dengan sistem pembakaran yang ditungku, begitu juga pasir yang terlalu banyak. Sehingga terjadi distorsi yang menyebabkan penurunan mutu dari bata itu. Rumah yang berada di wilayah rawan gempa meminta kualitas bata yang bagus disamping sambungan bata antara tiang juga harus menggunakan angkur dengan seng tebal yang dicantolkan di tiang-tiang kolom sehingga memberi kepastian bahwa kalau terjadi gempa tidak rubuh.

Yudi : 
Karena dibatasi oleh waktu, mungkin ada himbauan dari Pak Febrin dan Pak Rida mengenai rumah aman gempa ?

Febrin :
Masyarakat kita di Sumbar harus mulai membudayakan bangunan aman gempa. Artinya, kita sebagai pemilik maupun pelaku baik itu tukang, engeener atau insinyur, kaidah-kaidah bangunan aman gempa itu harus diikuti. Intinya, kita memang harus mengubah pola selama ini, kalau rumah tahan gempa itu mahal, si pemilik harus sadar. Begitu juga tukang jangan mengabaikan prinsip-prinsip syarat minimun tersebut.  Sekarang kita sudah belajar pada alam. Kedepan, kombinasi antara teori yang kita kaji dengan praktisi yang dilakukan oleh tukang kalau bersinergi sehingga masyarakat yang diuntungkan.

Rida : 
Pertama, Rumah aman gempa merupakan sesuatu yang tidaklah terlalu rumit. Masyarakat bisa tahu dan itu sederhana sekali.  Ada poin-poin penting disitu agar masyarakat tahu. Kalau ada waktu masyarakat bisa melihat bagaimana rumah aman gempa tersebut. Kedua, bagi engeener atau insinyur yang membangun banguanan bertingkat berat atau bangunan sekolah untuk umum itu harus berpikir ulang untuk Sumbar karena penghitungan tahan gempa di Sumbar sangat berbeda dengan apa yang tertuang di dalam Standar Nasional (SN) PU karena itu diperlukan suatu penghitungan kembali sehingga kita mampu menahan beban gempa yang besar. Seperti apa yang dikatakan Gubernur, SN PU perlu diinkluf kembali karena gempa yang terjadi pada waktu lalu telah melewati standar yang ada dalam peraturan bangunan.

Comments