TV - Gempa 30 September yang Merusak Banyak Bangunan


Ruang Publik : 9 Maret 2010

Pewawancara :
1. Febriani

Narasumber :
1. Ade Edwarr ( Ketua IAGI Sumbar)
2. Fauzan (Ahli Konstruksi)

Febriani : 
Sejauh apa kerusakan bangunan akibat gempa 30 September kemaren?

Fauzan : 
Berdasarkan evaluasi kerusakan yang dilakukan terdapat 150 rumah rusak terutama di Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Pariaman.

Yang terparah akibat dampak gempa adalah 6 Kabupaten/Kota yakni Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kab. Agam, Kab, Pasaman Barat, dan Kab. Pesisir Selatan. Di kota Padang selain rumah penduduk juga banyak bangunan bertingkat yang rusak.

Febriani : 
Apa yang menyebabkan korban timbul banyak karena bangunannya?

Ade : 
Berdasarkan data dari sebuah lembaga di Asia sekitar 80% korban timbul karena bangunan yang tidak aman dari gempa.

Febriani : 
Apa yang menyebabkan bangunan itu hancur dan rusak?

Fauzan : 
Bangunan di klasifikasikan menjadi dua yakni, rumah masyarakat dan bangunan bertingkat.

Kalau rumah masyarakat faktor kerusakan karena tidak adanya ikatan yang kuat pada tiap elemen rumah tersebut seperti mulai pondasi kebaloknya tidak ada angkur, tidak adanya tulangan yang cukup untuk menahan beban yang ada pada rumah tersebut, kolom tidak ada pembersihan dan hanya disusun bata saja. Hal inilah yang menyebabkan rumah itu hancur.

Bangunan yang hancur kebanyakan rumah yang bangunannya lama. Setelah gempa terjadi, telah ada keinginan masyarakat untuk membangun rumah sesuai dengan kaidah gempa. Hal ini juga di dukung oleh lembaga seperti Unand yang memberikan konsultasi gratis untuk layanan cara membangun rumah yang baru atau pun rumah yang direhab. Layanan ini telah di buka semenjak November 2009.

Febriani : 
Apa saja yang dilakukan oleh Klinik Konstruksi Unand?

Fauzan : 
Klinik konstruksi melakukan survey ke lapangan memberi rekomendasi untuk rumah yang aman gempa, ikut juga langsung melakukan perbaikan rumah yang rusak, melatih tukang tradisional agar mereka bisa bekerja sesuai kaidah-kaidah rumah aman gempa.

Febriani : 
Ke depannya apa yang harus dimiliki oleh masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana?

Ade Edward : 
Berdasarkan UU No.24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, bahwa titik berat itu adalah mitigasi atau sebelum kejadian bencana. Makanya, yang dibangun adalah kesiap siagaan. Untuk itu, masyarakat tidak perlu mengurus gempanya karena ada para peneliti yang mengurus sesuai ilmunya. Yang harus dilakukan masyarakat  adalah membangun rumah yang aman gempa. 80% dari korban adalah dari bangunan yang runtuh di Asia. Sementara di Sumbar kemaren 70% dari rubuhan bangunan dan 30% dari longsor berdasarkan yang terjadi di Patamuan kemaren. Yang membunuh itu adalah batu bata merah, batu kali, dan beton.

Fauzan : 
Bangunan itu di tentukan oleh elemen struktur yang terdiri dari kolom atau tiang. Kalau kolom sudah hancur maka akan menimpa bangunan yang di dalamnya. Untuk itu memperkuat bangunan minimal aman gempa untuk antisipasi korban berjatuhan. Jadi ada defenisi, rumah aman gempa atau rumah tahan gempa. Rumah aman gempa adalah bangunan tidak rubuh sewaktu terjadi gempa. Kalau rusak, paling kurang penghuninya bisa keluar dengan aman.

Febriani : 
Apa mungkin membuat rumah aman gempa tersebut?

Fauzan : 
Kita sudah membuktikan di Labor Unand, dimana di simulasikan dengan bahan-bahan yang direkomendasikan. Di bangun suatu bangunannya dan diuji dengan gempa yang berkekuatan 9 SR. Hasilnya bangunan tetap berdiri dan hanya terdapat retakan pada dinding atau kerusakan non strutural yang bisa diperbaiki.

Febriani : 
Apakah memerlukan besi yang banyak untuk membangun rumah aman gempa?

Fauzan : 
Bukan tergantung banyak besinya tapi perlu perhitungan. Rekomendasi Klinik Konstruksi antara lain Rumah tipe struktur rumah yakni tipe 21 dan tipe 36 dan tipe 45 yang aman gempa yang bisa di pakai masyarakat. Jadi di hitung dulu bangunannya, besinya berapa yang akan dipakai. Setelah dianalisa strukturnya, dapat disimpulkan besi yang di pakai besi 10 untuk kolom, untuk begelnya, untuk sengkangnya diameter 8 begitu juga baloknya, baru di keluarkan gambarnya.

Febriani : 
Berapa biaya yang dibtuhkan untuk rumah aman gempa?

Fauzan : 
Biayanya hampir sama. Kalau lebih mungkin sekitar 10-20%. Itu di gunakan untuk pengangkuran. Angkur berfungsi untuk mengikat bata dengan tiang.

Febriani : 
Bagaimana ketentuan bangunan gempa tersebut ?

Ade Edward : 
Berdasarkan survey badan geologi dan ESDM pasca gempa dari aspek gempanya, bahwa yang merusak gedung kita bukan dari getaran saja, tapi karena gempa mengahsilkan 4 gelombang yaitu, gelombang primer, sekunder, luv, dan relief. Semua karakter gelombang berbeda. Makanya, pada gelombang pertama akan mengalami rusak yang berturut-turut. Waktunya harus diperlukan. Gelombang luv mempunyai tiga dimensi gelombang yang sangat luar biasa getarannya. Gelombang inilah yang menghancurkan gedung-gedung di kota Padang. Seterusnya tidak hanya getaran, tapi juga deformasi di dasar tanah kita. Dia bergerak ke atas-ke bawah kemudian patah. Dan juga miring maka ada bangunan yang miring. Nah, ada teknologi material yang berkembang dan ini harus digali oleh para teknisi bangunan.

Rumah aman gempa tidak lebih mahal karena dengan menggunakan teknologi yang tepat, menggunakan bahan material pabrikasi yang dikerjakan dengan tepat seperti, bata yang ber SNI.

Febriani : 
Apakah menggunakan bahan material alternatif tidak mahal dari yang digunakan selama ini ?

Fauzan : 
Sebenarnya dengan metode konvensional pun banyak bangunan yang tidak rusak akibat gempa kemaren asal dibangun sesuai dengan kaidah rumah aman gempa. Kita juga harus meperhatikan material lokal yang mudah didapatkan oleh masyarakat. Dengan memakai material lokal, akan lebih mudah memperbaikinya. Bahan material lokal juga dijamin aman gempa asal sesuai dengan kaidah rumah aman gempa. Material tersebut antara lain, batu bata, hollowbrigh. Asal kedua komponen ini terpenuhi dan sesuai dengan perhitungan, maka akan dijamin aman gempa.

Febriani : 
Bagaimana masyarakat yang jauh dari kota Padang untuk mendapatkan akses dan informasi dari Klinik Konstruksi?

Ade : 
Mitigasi bencana adalah suatu pekerjaan jangka panjang. Oleh sebab itu kita harus mempersiapkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kita tidak bisa selamanya menggunakan bahan mateial konvensional sepertri batu bata karena sudah kuno.

Febriani : 
Apakah relugasi tidak diperketat lagi?

Ade Edward : 
Relugasi sudah ada yang diterbitkan oleh Departemen PU. Kriterianya sudah ada. Tinggal lagi para kontraktor/ engeener menerjemahkannya. Misalnya, Harus memiliki pengikat sebagai syarat, dan batu bata tidak memenuhi syarat untuk dinding bagi rumah aman gempa. Para engeneer tersebut antara lain, mekanikal, mesin dan sipil. Bagi stakeholder yang berusaha di bagian baja, metal, kayu silahkan mengembangkannya. Teknologi-teknologi pabrikasi belum menjanjikan. Batu bata yang isa digunakan adalah batu bata SNI yang lebih murah Rp 15.000 per M2 dari batu bata merah.

Febriani : 
Apa standar untuk perkantoran agar aman dari gempa?

Fauzan : 
Dari hasil evaluasi gedung bertingkat pasca gempa kemaren, ditemukan rendahnya mutu matreial. Yang ditemukan di lapangan mutu material jauh dari standar. Standarnya harus punya kekuatan 225 kilogram per cm skuer. Kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah 150-175 kilogram per cm. Pertama,  seharusnya pakai redimit untuk menguji mutu beton.  Kedua, segi pengerjaan  pengecoran, dimana dilakukan asal-asalan sehingga terjadi segregasi yaitu pemisahan material yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, batu-batu numpuk dibawah dan semen diatas sehingga mengakibatkan keropos bagian yang bawah sehingga chancur yang dibawa ketika gempa terjadi. Ketiga, sambungan antar tulangan pada elemen struktur. Seharusnya setiap sambungan harus punya panjang penyaluran dibengkokkan sehingga mengikat. Sedangkan tukang konvensional, kebanyakan putus dari tulang ke balok. Sehingga ketika gempa terjadi, kolom lepas, balok juga terpisah sendiri. Jika bangunan untuk engeenering ini desainnya bagus dan punya standar karena kita berada di daerah gempa dengan feed ground accelaration 0,4 dimana sebelumnya 0,2. Jika itu terpenuhi maka tinggal pengawasannya.

Kalau pembangunan dan pengawasan sesuai dengan kaidah tersebut, maka tidak akan ada bangunan akan runtuh.

Ade Edward : 
Harusnya kesempatan ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Sebenarnya, pada pembagunan gedung pemerintahan ada legal formalnya, ada uji kuat beton, ada pengawasannya, tetapi sebelumnya hanya jadi stempel. Hendaknya sebagai daerah rawan gempa legal formal tersebut jalan, begitu juga fisiknya.

Edo (Penelpon dari Tabing, Padang) : 
Bagaimana selayaknya konstruksi rumah aman gempa?

Fauzan : 
Konstruksi rumah aman gempa syaratnya ada tiga, yaitu, mutu bahan yang digunakan  baik, mutu pengerjaan baik, dan seluruh komponen konstruksi mulai dari pondasi, tiang dan atap diikat dengan baik, sehingga dia menjadi satu kesatuan.

Klinik konstruksi menyediakan buku khusus ìcara membangun rumah tembokan aman gempaî. Di buku tersebut ada petunjuk membangun rumah dan petunjuk bagi tukang. Otomatis untuk rumah sederhana bisa mengawasi rumah berdasarkan buku tersebut begitu juga pemilik tanah dan tukang.

Febriani : 
Apa kontur tanah mempengaruhi?

Fauzan : 
Sebelum membangun rumah, hendaknya dicek dahulu kondisi tanahnya dan tidak disarankan membangun rumah di bawah perbukitan. Untuk itu, pemilik tanah kalau mau membnagun rumah hendaknya konsultasi dahulu dengan Dinas PU dan Pusat Studi Bencana Unand.

Faisal (Penelpon dari Sungai Geringging) : 
Bagaimana ketegasan soal bahan material  dari pemerintah atau para ahli?

Fauzan : 
Untuk pemakaian batu bata dibolehkan untuk rumah tradisional dan rumah sederhana sepanjang mengikuti kaidah-kaidah rumaha aman gempa. Yang penting ada ikatan antara tiang dengan bata tersebut. Pengikatnya adala mortar (semen dan pasir) sehinggga ketika terjadi gempa akan menjadi satu kesatuan. Bahan material tersebut harus sesuai dengan SNI. Pemakaian bata hendaknya dibasahkan dahulu sebelum dipasang. Setelah itu baru dilapisi oleh mortar.

Febriani : 
Bagaimana standar bata yang berkualitas?

Fauzan : 
Jika diinjak antara dua bata tidak patah. Begitu juga batako.

Desi (Penelpon dari Pariaman) : 
Bagaimana mengatakan kepada tukang soal bangunan rumah aman gempa ?

Ade Edward : 
Persoalannya keterbatasan manusia dalam keahlian, solusinya adalah dengan menggunakan bahan material yang standar. Untuk daerah terisolir, tukang-tukangnya diberikan pelatihan-pelatihan oleh tim pengawas.

Fauzan : 
Menurut survey, Keterbatasan skill tukang adalah permasalahan yang terjadi di Indonesia. Kebanyakan di Indonesia, dimana mereka mendapatkan ilmu secara turun temurun. Ini sangat beda dengan tukang luar negeri, dimana tukanganya didapat melalui pendidkan formal dan dapat sertifikat. Untuk itu, tukang-tukang tersebut kita latih. Di latih bagaimana cara membangun kaidah rumah aman gempa dan dilengkapi buku. Tukang iniah yang akan menularkan ilmu yang di dapat kepada tukang lainnya. Yang melatih antara lain, Pusat Studi Bencana Unand melakukan pelatihan di Kecamatan Pauh. Selain itu juga dari sponsor. Kita harapkan 50% tukang yang dilatih di Sumatera Barat menularkan ilmunya pada tukang lain. 50% ini dibekali sertifikat sehingga masyarakat bisa mengontrol hal tersebut.

Ade Edward : 
Selain tukang, pengawas atau engineer-nya juga harus diberi pelatihan. Pasca gempa memperlihatkan poara engeener yang membangun gedung di kota Padang, banyak yang gagal karena bangunan gedung banyak rubuh. Selain itu, kontraktor, pengawas, perencana, dan pemilik lahan juga diberi pelatihan. Selama ini hanya semau tukang saja, pengawas tidak terlalu berperan. Misalnya, Kantor PU sendiri juga rusak sewaktu terjadi gempa.

Febriani :
Bagaimana membangun rumah di bekas tanah yang kena dampak gempa?

Fauzan : 
Klinik Konstruksi juga memiliki ahli di bidang tanah. Juga didukung oleh alat pengukur tanah. Alat itu bisa mengukur apa layak atau tidak, dan pondasi apa yang akan dipakai. Biayanya tidak terlalu mahal dibandingkan resiko yang akan timbul kalau gempa datang. Yang terpenting membangun tersebut jangan di tanah di lereng atau di bawah perbukitan.

Ade Edwar : 
Kalau kita tidak punya pilihan lain dalam hal tanah ini. Oleh sebab itu pemahaman kita terhadap tanah ini penting karena hak milik kita. Pengalaman studi kita, ketika uji pengukuran, tanah tersebut memenuhi syarat, namun ketika terjadi gempa terjadi dukungan lahan tersebut secara mendadak. Banyak tanah yang amblas, jadi tanah tersebut bersifat dinamis. Cara mudah adalah bagi masyarakat yang memilki tanah dengan penurunan pasir, ada retakan di tanahnya tidak disarankan membangun rumah yang berat karena sifat bencana datang di tempat yang sama. Buktinya adalah retakan gempa 2009 sama dengan gempa 2007. oleh sebab itu di tanah tersebut dibangun bangunan yang ringan dan konponen yang ringan.

Gusman (Penelpon dari Tunggul Hitam, Padang): 
Apa standarisasi material?

Ade Edward : 
Bata sudah ada yang standar SNI. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) seharusnya juga berperan dalam standar material ini karena menyangkut keselamatan dan perlindungan konsumen. Bangunan harus sesuai dengan struktur tanah. Mengenai daerah-daerah yang merah atau merah yang direkomendasikan tidak digunakan untuk bangunan-bangunan berat dan hanya bangunan-bangunan ringan. Seperti, daerah pantai yang tanahnya lembab, seperti lumpur. Daerah pesisir inilah yang amblas dan mengalamai penurunan sekitar 25-50 cm. Resikonya bangunan berat akan miring. Makanya, kami rekomendasikan kepada kabupaten/kota, daerah merah tersebut tidak boleh di bangunan berat.

Fauzan: Saya merekomendasikan, bangunan-bangunan yang rusak terutama yang bertingkat, jangan asal dirubuhkan atau dibongkar karena semua bangunan tersebut bisa dievaluasi. Jika bangunan tersebut berdiri tegak, bisa diperbaiki dan diperkuat, dimana setelah diperkuat kekuatannya lebih tinggi dari semula. Hal ini sudah di investigasi kerjasama dengan PU dan beberapa profesor dari Jepang dan Jerman.
Comments