TV - Kearifan Budaya Minang dalam Rumah Aman Gempa


RUANG PUBLIK  (TVRI Sumbar) : 14 Mei 2010

Pewawancara : 
1. Febriani

Narasumber : 
1. Wisran Hadi (Budayawan)
2. Eko Alvarez (Dosen Arsitektur UBH)

Febriani : 
Bagaimana Falsafah Rumah Adat Minangkabau berkaitan dengan kebencanaan khususnya gempa?

Wisran : 
Orang Minang tidak membangun rumahnya karena gempa, tapi gempa diperhitungkan untuk sebuah bangunan. Kemudian, rumah Minang bukan rumah untuk kepentigan individual, tapi dibangun untuk kepentingan perkauman. Oleh karena itu, dalam membangun rumah, semua punya peran yang penting sekali untuk pembangunan itu. Sekarang terbalik, yang dibangun rumah-rumah individual/pribadi bentuknya rumah gadang. Hampir semua masyarakat tradisi di dunia, itu semuanya rumahnya berjarak dengan tanah, mungkin dengan berbagai alasan seperti kepentingan kewamanan, kepentingan kesehatan. Rumah Minang juga mengikuti pola tradisi tersebut, mungkin karena mengikuti pola filosofis dimana alam yang menjadi sumber, bentuk Rumah Gadang itu lain dari rumah masyarakat tradisi lainnya. Ada orang yang mencoba membuatkan bentuk geometrik rumah gadang tersebut, mengapa Rumah Gadang tersebut tahan gempa. Itu ada penelitian dari suatu tim ITB,  membuatkan gonjong dari rumah yang 4 tersebut kalau diteruskan garisnya akan menjadi 2  lingkaran. Kemudian bangunannya kebawah kalau kita teruskan sampai ke tanah akan berbentuk trapesium. Makanya kalau trapesium tersebut mendapat goyangan, maka dia akan terpengaruh karena adanya keseimbangan dari gonjongnya. Kemudian mereka tidak menanamkan tiang karena rumah tersebut dibuat lebih lebar, rangkanya juga lebar, supaya tidak terbal, maka tiang di alas dengan batu. Orang Minang rumahnya juga punya sandi. Ini ada pada setiap tiang yang dialas dengan batu. Rumah gadang tersebut kalau mendapat goyang gempa tidak selalu bergoyang pada batu. Sedangkan Istana Basa Pagaruyung telah mengggunakan konstruksi baru. 

Febriani : 
Apakah orang kaya yang membuat Rumah Adat dengan segala ukiran yang wah mempertahankan falsafah Rumah Gadang yang ada ?

Wisran :  
Dia tetap saja mengikuti selera daripada si punya uang. Misalnya, dia seorang penghulu, seharusnya rumahnya mengikuti adat yakni 5 ruang atau gonjongan 4. Tetapi karena dia kaya, dia buat lebih besar lagi. Jadi tidak ada lagi urusan adat di sini, tidak ada urusan dengan patron-patron yang ada. Di rumah Gadang tersebut ada ruang reproduksi, ruang untuk publik, ruang untuk living room.

Febriani : 
Apakah secara ilmiah, gonjongan tersebut mencegah keseimbangan ketika terjadi goncangan?

Eko : 
Banyak pendapat tentang gonjongan tersebut. Berdasarkan yang saya amati di lapangan, Menurut hemat saya, orang Minang itu sangat pragmatis dan logis, dari hal ditemukan dari rumah yang tersisa sekarang ini, yang lama tentunya, bentuk-bentuk itu merupakan konsekuensi logis dari material saja. Kalau dia kayu, dia akan menunduk, seperti Rumah Gadang di Balimbing. Berikutnya, dari temuan saya, semakin baru dan pernah diganti atapnya maka akan melentik keatas. Secara logis dan ilmiah dengan penemuan material baru seperti, baja dan beton, semakin lama semakin melentik atapnya keatas. Pak Wisran Hadi mengatakan rumah tradisi dan ada rumah yang dibangun secara individu. Kalau tradisi, dibangun berdasarkan sintesa yang disekitarnya dan sinstesa dari kebutuhan masyarakat kaumnya maka munculah rumah. Tidak akan mungkin muncul Rumah Gadang yang cantik di tepi sawah tanpa didukung oleh kemakmuran warganya atau komunalnya. Kalau kita lihat lebih lanjut lagi, mereka membuat rumah tersebut sebagai hasil dari produk budaya atau hasil sintesa bertahun-tahun.

Febriani : 
Sepanjang riset yang dilakukan Apakah terlihat Rumah Gadang tersebut aman dari gempa?

Eko : 
Karakteristik kayu mampu menahan daya tarik dan tidak kaku. Dia elastis, maka akan mengikuti irama goncangan. Pakunya tidak kaku dan baku. Semakin dibebani, dia akan semakin kokoh, seperti Ranking. Rumah gadang bukan hanya untuk simbol atau memamerkan apa yang ada tapi karena memang dibutuhkan masyarakat pada saat itu.

Febriani : 
Apakah dengan menggunakan kayu termasuk standar pada saat itu?

Wisran : 
Pada suatu kurun waktu, pengetahuan orang berkembang. Pada awalnya memilih kayu karena belum ada temuan beton. Tetapi, kayu memang memiliki kekokohan dan mempunyai daya elastis yang tinggi.

Febriani : 
Apakah nenek moyang kita memikirkan hal tersebut pada masa dulu?

Wisran : 
Nenek moyang kita membuat rumah Gadang dahulunya jarang yang memakai pondasi. Nenek moyang kita menggunakan sandi untuk penopang tonggak. Jadi, disini bisa dilihat mereka menggunakan kayu sebagai bahan membuat Rumah Gadang sebagai suatu yang telah dipikirkan.

Febriani : 
Apakah rumah yang dibuat dari kayu lebih aman dari ancaman gempa?

Eko : 
Tentunya dalam batasan tertentu. Yang terpenting, pertama, pemahaman masyarakat tentang rumah aman gempa. Kedua, sering masyarakat lupa membangun rumah tidak berdasarkan apa yang menjadi ketentuan. Ketiga, masyarakat sangat arif dalam berhubungan dengan gejala-gejala alam seperti memilih kayu, memilih hari penebangan.

Wisran : 
Pohon-pohon pada masa berbunga tidak boleh ditebang.

Eko : 
Rumah kayu, nenek moyang sangat dekat dengan alam. Ada kebiasaan-kebiasaan seperti, untuk tanah yang datar cocok untuk rumah, banyak yang air untuk genangan air. Ini bisa kita gali, seperti, daerah longsor kita bangun pohon penahan longsor. Seharusnya kearifan ini kita gali kembali.

Wisran dan Eko : 
Orang tradisi menanam pisang yang bisa dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran. Begitu kita melihat Rumah Gadang, semuanya telah dirancang sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, menghindari binatang buas. Penahan angin, dan tempat menanam apotik hidup. Semua ini juga bagian dari estetika.

Febriani : 
Mengapa masyarakat sekarang lebih suka membangun rumah dari bata?

Eko : 
Ini bukan karena kayu habis membuat rumah, tapi karena ilegal logging. Ini memang pilihan tidak gampang karena kayu mahal sekarang. Banyak jenis material baru yang ada tapi mempunyai prilaku yang beda. Misalnya, orang banyak yang memakai displang. Ketika gempa terjadi, displang inilah yang banyak  merusak bangunan seperti teras. Displang tersebut tidak fungsional karena dibangun cenderung untuk gaya.

Febriani : 
Jepang kondisinya sama dengan Indonesia, tetapi cenderung disana memakai rumah kayu?

Eko : 
Dari penelitian, pada dasarnya rumah orang di kawasan Austronesia adalah dari kayu dan berupa rumah panggung dan merupakan rumah tradisi. Jepang sendiri sudah duluan menyadari hal ini. Dari bangku sekolah sudah diajarkan. Bandingkan dengan Indonesia, dengan berbondong-bondong ke kota, mereka lupa akan suatu hal yakni tradisi dan kearifan lokal. 

Wisran : 
Ini tidak mungkin terjadi karena orang mempunyai kepentingan tersendiri. Misalnya kemiskinan, Niniak Mamak sekarang kurang peduli.

Chica (Penelpon dari Tarandam, Padang) : 
Saya adalah korban gempa yang rumahnya hancur, kalau mau membangun rumah yang aman gempa kemana harus dicari tukang yang bagus?

Eko : 
Sudah banyak institusi yang memberikan pelatihan pada masyarakat seperti, Pusat klinik konstruksi Unand, pusat klinik konstruksi UBH. Masyarakat bisa konsultasi disana.

Asrul (Penelpon dari Parak Laweh, Padang) : 
Bagaimana tips/ cara merawat tiang Rumah Gadang?

Eko : 
Musuh utama kayu adalah hujan dan kelembaban seperti jamur. Makanya, yang perlu dilakukan adalah membersihkan, dikasih treatmen, 

Wisran : 
Sampai sekarang, ke pemerintahan pun, datang kita sama orang Barat, maka yang akan dilayani dahulu adalah orang Barat tersebut. Ini adalah masalah mental. Ketika ini sampai pada pembuatan rumah, rumah bercorak Spanyol dan Mediterania, hanya nampak indah tapi tidak kuat. Sementara, masyarakat kita dahulu, sebelum membangun rumah, dibicarakan terlebih dahulu oleh perkauman tersebut. Misalnya, kayunya dari mana, ukirannya dari mana.

Nah, sekarang kalau bangunan kantor yang merupakan bangunan bersama, tetap saja tukang proyek yang menentukan. Hanya gonjongnya yang menjadi syarat sementara konstruksi tidak terlalu diperhatikan.

Ketika orang Jepang mengunjungi Sumbar, mereka bertanya mengapa Gonjong Rumah Gadang bisa pindah ke perkantoran. Untuk menjawab pertanyaan itu, saya katakan orang Minang ketika mobile∏orang Minang kopiahnya bisa di kepala, bisa dilutut. Makanya, gonjong tersebut bisa dipakai di kandang ayam, rumah makan, gerbang makam pahlawan, kantor pemerintahan, pub, dan lain-lain.

Febriani : 
Kalau ingin pindah ke peradaban nenek moyang kita, apakah harus secara keseluruhan?

Eko : 
Tidak mesti kembali ke masa lalu. Tetapi karena ini adalah interpretasi budaya, seperti arsitektur budaya. Ini mestinya dilihat secara cerdas.

Wisran : 
Memindahkan gonjong-gonjong ke kantor bukanlah orang Minang dalam konteks adat dan budaya. Itu hanya dilihat suatu hal yang perlu dilestarikan berdasarkan SK. Ada kantor yang bergonjong satu, dan ini sangat menyerupai rumah adat Toraja. Jadi tidak artian satu pun secara konstruktural dan konsepsional pemindahan tersebut.

Misalnya: Kantor Gubernur yang tidak bagus secara estetika karena tidak seimbang antara tingkatan bangunan dengan gonjongnya. Kita bisa dilihat ke kampung-kampung dimana konstruksi itu sangat berimbang. Seharusnya, pembuatan Kantor Gubernur tersebut lebih kreatif lagi.

Eko : 
Fenomena itu adalah stagnasi dalam berkreativitas, sehingga yang terjadi hanya pengambilan photocopi terbesar dan mengambil intinya. Makanya, ketika dia dipakai dalam berbagai bentuk, kita tidak lagi beruat apa-apa. Untuk itu, kita harus mendorong supaya lebih kreatif lagi. Kita harus lebih cerdas untuk menginterpretasi dan ini merupakan suatu tantangan bagi perguruan tinggi dan kalangan akademis.

Febriani : 
Bagaimana cara Rumah Gadang itu supaya ada di Sumatera Barat?

Wisran : 
Dulu orang tidak berpikir serumit itu. Ya, kalau tidak bisa membangun kan bisa tinggal di rumah biasa. Kalau kita mundur ke budaya lama untuk membangun Rumah Gadamng, maka itu adalah suatu hal mustahil. Jangan sampai Rumah  Gadang seperti berhala, yaitu dibangun dengan biaya mahal, bagus, indah, dan bernilai tetapi hanya sebagai pajangan.

Lalu bagaimana dengan kantor yang bergonjong yang tidak berdasarkan interpretasi budaya? Bagi saya, yang penting didalamnya orangnya yang beradab. Biarlah rumahnya jelek, tapi orangnya beradab. Sama dengan kubah mesjid. Kata orang, kalau tidak berkubah, itu bukan mesjid. Pada hal, kubah itu dari Turki.  Begitu juga, kalau kita mengunjungi Bangkok, maka, perahu disana banyak pakai gonjong. Makanya jangan bilang kita saja yang hebat.

Febriani : 
Bagaimana upaya sosialisais yang sampai ke masyarakat ?

Eko : 
Sudah banyak instansi atau lembaga yang memberikan sosialisasi ini. Pemerintah hendaknya memperlakukan IMB dengan baik dan benar. Jangan hanya jadi restribusi belaka. Hendaknya, ketika IMB diizinkan memang benar-benar telah memenuhi persyaratan.. Rancangan yang ada dibuat oleh orang yang berkompeten dengan regulasi dan peraturan dan hendaknya diperiksa berdasarkan regulasi yang ada. Satu-satunya mekanisme syarat bangunan yang di Padang hanya IMB. Kedua, siapa yang merancangnya karena selama ini orang merancang adalah orang yang memenuhi syarat untuk mengeluarkan regulasi tersebut. Ketiga, ada usaha untuk membiina profesi seperti tukang kayu, tukang batu, baik itu tenaga terampil maupun tenaga ahli karena dia lah yang akan bersama-sama membangun masyarakat berbudaya.

Febriani : 
Bagimana kalau kualifikasi tukang untuk membangun rumah tinggal masyarakat?

Eko :  
Paradigma bahwasanya arsitek itu mahal adalah salah. Misal, untuk mengarsiteki mesjid kadang tidak dibayar. Rumah tinggal juga ada aturan untuk arsitek ini. Aturan buat bangunan tersebut sudah lengkap. Satu bangunan ada 4 undang-undang yang mengawasi, yakni, undang-undang lingkungan hidup, jasa kontruksi, bangunan gedung, dan undang-undang mengatur caranya. Kita kelkurang orang pointar membuat undang-undang dan kurang orang dalam melaksanakannya.

Khusus untuk Kota Padang dan Sumatera Barat secara umum, hendaknya diratifikasi undang-undang tersebut dalam tatanan pelaksanaan pembangunan termasuk rumah. Misalnya, kalau IMB itu jalankan dengan baik karena tidak selalu mahal karena sudak ada mekanismenya.

Febriani : 
Apakah kejadian akibat gempa dipengaruhi oleh regulasi yang tidak berjalan?

Eko : 
Iya, seperti IMB ada, tapi gejala yang terjadi pasca gempa, IMB tersebut tidak sesuai dengan kaidah, tidak pengawasan, tidak yang ada yang meregulasi pengawasan. Padahal semuanya telah diatur secara kompak. Kadang IMB ini tidak di pandang sebagai alat membantu masyarakat untuk mendapatkan bangunan yang baik, tetapi hanya tujuan restribusi saja. Hendaknya mindset ini kita ubah. 

Wisran : 
Contohnya, kayu sekarang mahal bukan karena kayu tidak ada. Dengan alasan mahal tersebut di tawarkan material baru yang lelbih tahan gempa. Mengapa tidak kayu saja kita tawarkan?. Inilah yang terjadi sekarang. 

Febriani : 
Apa upaya profesional dalam meregulasi bangunan tersebut?

Eko : 
Sekarang sudah baik. Arsitek kalau tidak bersertifikat tidak boleh praktek. Hal ini dipicu ada undang-undang yang menjamin. Arsitek diberi izin oleh pemerintah dalam bentuk tes dan sertifikat. Ini menunjukkan kita melayani masyarakat dengan baik.  Ironosinya, yang bersertifikat diangggap mahal. Ada juga bidang-bidang perbandingan masyarakat, bagaimana masyarakat bersama-sama membnagun berdasarkan apa yang ada disana.

Febriani : 
Bagaimana menyikapi motto Yayasan Idep ì Bukan gempanya tapi bangunannyaî?

Wisran : 
Sebagai motto sangat oke. Tapi gempa itu adalah kekuasaan Tuhan. Bangunannya adalah persoalan perizinan, material, dsb, tetapi yang digambarkan hanya tembok-temboknya. Jadi, Image kita terhadap motto ini hanya biasa saja, dimana membangun rumah seperti biasa tanpa ada perubahan apa-apa.

Febriani : 
Apakah Bapak yakin bisa menerapkan kearifan lokal di zaman modern dan kondisi sosial masyarakat sekarang ini?

Wisran : 
Tidak yakin. Pola berpikir masyarakat sebenarnya lah yang lebih penting dari pada pola bangunan. Pola berpikir akan mengubah pola hidup.
Comments